3 remaja campur gerakan sholat dengan musik disko ditangkap dan kecaman MUI sorong

campur gerakan sholat dengan musik disko ditangkap
Polres Sorong Kota melalui Tim Opsnal Reskrim akhirnya berhasil menangkap dua orang perempuan masing-masing berinisial FN dan TS, yang terekam di dalam video sedang melakukan pelecehan terhadap Agama Islam, yakni melakukan gerakan salat disertai goyangan dan diiringi musik disko, Selasa (10/12).

Tidak hanya kedua perempuan yang terekam di dalam video yang ditangkap, orang yang melakukan perekaman video viral yang berinisial A juga sudah diamankan.

Saat ini, ketiga orang tersebut dan satu orang saksi sedang menjalani pemeriksaan intensif, di Unit IV Tipidter Polres Sorkot untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kapolres Sorong Kota AKBP Mario Siregar, SIk melalui Kasat Reskrim Polres Sorong Kota AKP Syarifur Rahman, SIk mengatakan kedua perempuan yang ada di dalam video dan yang merekam, ditangkap di tempat yang berbeda.

“Untuk FN dan A kami tangkap di rumah A, di belakang Mega Mall. Sedangkan tersangka TS ditangkap di jalan victory,” ungkap Kasat Reskrim AKP Syarifur Rahman.Saat ini, kata Syaifur, keempatnya masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Hal ini untuk mengetahui apa motif dari perbuatan yang mereka lakukan. 


"Dua orang yang ada di dalam video masih di bawah umur dan sudah tidak sekolah. Sedangkan yang merekam masih berstatus sebagai siswa di salah satu SMA di Kota Sorong," bebernya.

Pantauan media ini, orang tua dari FN, TS dan A saat ini sudah berada di Polres Sorkot untuk mendampingi putri mereka menjalani pemeriksaan. Selain itu, para orang tua dari ketiga perempuan ini juga akan diminta keterangan terkait perbuatan anak-anaknya.MUI Kecam 2 Remaja Sorong Yang Campur Gerakan Salat Dengan Musik Disko


Kedua remaja yang diketahui merupakan warga Kota Sorong Papua Barat ini, viral di media sosial Facebook setelah postingan video mereka yang berdurasi 30 detik, yang sedang melakukan gerakan salat disertai dengan goyangan dan diiringi musik disko.

Berdasarkan video yang diterima media ini, aksi kedua remaja tersebut sengaja direkam oleh salah seorang temannya dan sengaja dibagikan di media sosial. Terkait viralnya video tersebut, Sekretaris MUI Kota Sorong, Agung Sibela, angkat bicara.

Dihubungi Balleo News melalui telepon seluler, Sekretaris MUI mengecam apa yang dilakukan oleh kedua remaja tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan kedua remaja tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap agama khususnya Agama Islam.

"Kami sudah koordinasi tingkat MUI, intinya kami arahkan untuk dilakukan proses secara hukum. Sudah ada yang mau membuat laporan ke polisi, ini kami lakukan guna memberikan sanksi hukum sebagai efek jera kepada warga yang lain agar tidak melakukan hal yang sama," ungkapnya, Senin (9/12).

Menurutnya, menyangkut persoalan agama ini sangat sensitif. Sehingga pihaknya tidak bisa mentolerir apa pun bentuk pelecehan terhadap agama. Ditanya apakah MUI sudah mengetahui identitas dari kedua remaja tersebut, jawabnya, mereka sudah mengetahui identitasnya dan tempat tinggal dari remaja tersebut.

Sekretaris MUI Kota Sorong berharap Polres Sorong kota dapat melakukan proses hukum terhadap 2 remaja tersebut. "Tadi memang ada yang sudah melaporkan hal ini ke polres sorong kota, tapi informasinya laporan mereka ditolak karena bukti yang dimiliki tidak kuat. Tapi kami tetap akan mengumpulkan bukti dan berkas untuk melaporkan hal tersebut. 

Kalau tidak diproses hukum, takutnya akan menimbulkan efek yang lebih parah lagi bagi dua remaja itu," ujarnya.

Ditambahkannya, jika pihak kepolisian menolak laporan tersebut, maka dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan yang baru.

"Kita tidak bisa tanggung jawab, takutnya orang main hakim sendiri. Kita berharap polisi sebagai aparat keamanan lebih profesional dan dapat menyelesaikan masalah ini. Karena secara pribadi dan institusi apa yang mereka lakukan ini sudah menyalahi aturan," tegasnya.

Sekretaris MUI menghimbau kepada seluruh masyarakat khususnya para remaja untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial, apalagi menyangkut persoalan keagamaan. Karena sara bisa memicu persoalan internal umat.