Banyaknya Praktek Syirik di Daerah Probolinggo, Padahal di kenal Kota Santri

Praktek Syirik di Daerah Probolinggo

Batu petir dari Jombang, penggandaan uang di Probolinggo, dan masih banyak lagi.

Bukankah kota kota di atas dikenal dengan kota santri?

Bukankah kota kota itu juga banyak ahli agama?

Betul sobat, namun itulah fakta negri kita, kajian tauhid, akidah yang benar masih saja dibutuhkan, bahkan sangat dibutuhkan, karena masih banyak yang merasa tidak butuh untuk mempelajarinya.

Di sisi lain, eksploitasi kisah kisah wali sakti mandraguna, karomah wali yang diekspos tanpa kendali dalil yang valid dan pendalilan yang benar, dimanfaatkan oleh oknum oknum tak bertangung jawab.

Andai masalah karomah wali, dan kesaktian orang sholeh didudukkan dengan benar, dipelajari dan diajarkan sesuai dalil dan porsinya, niscaya praktek praktek mistis semisal di atas redup atau ndak laku jual.

Sebagian orang menduga bahwa bukti kesholehan seseorang adalah ia memiliki karomah, sehinga mampu melakukan hal hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa.

Sehingga bila seorang yang rajin ibadah namun tidak bisa melakukan hal hal yangluar biasa, maka kesholehannya diragukan.

Padahal karomah terbesar orang yang beriman ialah keistiqomahannya menjalankan agama Allah sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga ia terhindar dari syahwat dan kebal terhadap syubhat, hingga akhir hayat.

Allah Ta'ala berfirman:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus 62-63)

Jadi yang namanya wali, itu pasti rajin shalat lima waktu, puasa ramadhan, meninggalkan yang haram, menjaga auratnya, senantiasa meneladani sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bicaranya sesuai dalil walaupun mereka tidak bisa menggandakan uang, atau hal hal nyleneh lainnya.

sumber Dr Muhammad Arifin Badri