BENARKAH SAFAR BULAN PENUH BALA DAN SIAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BENARKAH SAFAR BULAN PENUH BALA DAN SIAL?

Sebagian orang merasa pesimis dan khawatir menghadapi zaman. Dia menyangka waktu dan zaman itu bisa menimpakan keburukan kepadanya. Mereka menafikan takdir Allah dan qadar-Nya. Ini meruapakan bentuk anggapan sial yang dilarang oleh Nabi ﷺ. Beliau ﷺ mengabarkan, bahwa yang demikian ini termasuk syirik. Karena orang yang menganggap sial dan merasa pesimis meyakini apa yang menimpanya ini merupakan keburukan makhluk, baik berupa waktu, tempat, atau person tertentu. Dengan keyakinan tersebut, ia pun membenci orang tertentu, waktu tertentu, dan tempat tertentu. Membaralah di hatinya dan terus berprasangka bahwa hal tersebutlah yang memberinya keburukan atau sial. Dia lupa atau pura-pura lupa, kalau apa yang menimpanya tersebut sudah ditentukan oleh Allah dengan sebab dosanya.

Allah membantah mereka semua. Dia menjelaskan bahwa yang menimpa mereka adalah hukuman dan makar Allah terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menetapkan keburukan untuk mereka dikarenakan dosa-dosa mereka:

(قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا *مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ)

Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Quran An-Nisa: 78-79]

Di antara anggapan sial dan rasa pesimis yang dipraktikkan masyarakat jahiliyah adalah mereka meyakini Safar ini sebagai bulan sial. Mereka melarang diri mereka dan anggota keluarga mereka untuk melakukan pekerjaan yang biasa mereka lakukan di bulan lainnya. Nabi ﷺ membantah pandangan mereka ini dengan sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ (أخرجه البخاري و مسلم)

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar memercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan Safar adalah bulan sial”. [HR al-Bukhari dan Muslim]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد (رواه البخاري، رقم 5387 ومسلم، رقم 2220 ) .

“Tidak ada penyakit menular, thiyarah dan burung hantu dan Safar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” [HR. Bukhari, no. 5387 dan Muslim, no 2220]

Beliau ﷺ menafikan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit itu menular karena tabiat penyakit itu sendiri, tapi menular kepada orang lain atas takdir Allah. Allah ﷻ berfirman:

(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا)

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” [Quran Al-Hadid: 22].

Kemudian orang-orang jahiliyah juga menganggap sial (bulan) Safar. Dan saat ini kita di bulan Safar. Mereka berkata tentang Safar: “Sesungguhnya itu adalah bulan sial.”

Nabi ﷺ menyanggah keyakinan itu. Sesungguhnya bulan itu tidak memiliki pengaruh. Dia sama saja dengan waktu-waktu yang lainnya, yang Allah jadikan suatu kesempatan untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat.

Keyakinan seperti ini adalah keyakinan jahiliyah. Dan keyakinan ini senantiasa ada pada sebagian orang hingga pada hari ini. Di antara mereka ada yang menganggap sial (bulan) Safar. Ada lagi yang menganggap sial Rabu, Sabtu, atau hari-hari lainnya. Karena hari-hari tersebut dianggap sial, mereka tidak mau melangsungkan pernikahan pada waktu-waktu tersebut.

Bertakwalah kepada Allah. Makmurkan rumah dan waktu kita dengan ketaatan kepada Allah. Selalu kaitkan hati kita kepada Allah: takut, harap, dan cinta kepada-Nya.

Ketauhilah! Apa yang menimpa kita berupa hal-hal yang tidak kita sukai, itu adalah karena dosa-dosa kita. BUKAN karena waktu dan tempat yang sial. Karena itu salahkanlah diri kita sendiri.

Siapa yang merasa sial karena bulan, hari, jam, atau sesuatu yang lain, maka pada hakikatnya dia telah menuduh Allah. Dia telah mencela Allah. Sebagaimana sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, Allah taala berfirman dalam Hadis Qudsi:

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Anak Adam menyakiti-Ku dengan dia mencela masa, padahal Aku adalah masa. Di tangan-Ku lah segala urusan. Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam.”

Dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah-lah masa.” [HR. Muslim]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)

Website: https://nasihatsahabat.com/

Twitter: @NasihatSalaf

Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/

Instagram: NasihatSahabatCom

Telegram: https://t.me/nasihatsahabat

Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

thiyarah,thiyaroh,pamali,anggapan sial,tathayur,tathoyur,syirik,kesyirikan,Safar,Shafar,bulan Shafar,Safar bukan bulan sial,jangan mencela masa,jangan mencela waktu

BENARKAH SAFAR BULAN PENUH