Berdakwah, Tidak Harus nunggu Jadi Ustadz

Berdakwah, Tidak Harus nunggu Jadi Ustadz

Dia pekerja biasa. Bukan ustadz atau dai. Tapi dengan izin Allah, melalui tangan dinginnya, puluhan orang masuk Islam.

Namanya Murtadha. Warga negara Sudan. Merantau ke Saudi, untuk mencari sesuap nasi di sana. Bekerja di sebuah perusahaan pengepakan kurma. Rekan kerjanya banyak non muslim dari Philipina.

Murtadha tipe orang yang mudah akrab dalam bergaul. Akhlaknya mulia. Sering meminjami uang kepada temannya yang sedang kesusahan. Mentraktir dan menjamu mereka kuliner khas Sudan. Bercanda dan tertawa bersama mereka. Membesuk temannya yang sakit. Jika ada yang menghadapi problem, ia bergegas membantu mencarikan solusi. Walaupun harus dengan merogoh kocek pribadinya.

Perilaku positif Murtadha ini mengagumkan teman-temannya non muslim. Merekapun penasaran, ingin mengetahui rahasia di balik kemuliaan akhlaknya. Saat itulah Murtadha mulai menjelaskan ajaran Islam. Agama yang sangat menjunjung tinggi akhlak. Lalu secara bertahap, dia membagikan kepada mereka buku-buku ringan tentang Islam.

Ya, mereka percaya dengan kejujuran dan ketulusan Murtadha. Sebab mereka melihat dan merasakan sendiri kemuliaan akhlaknya. Sehingga mereka mencintainya, lalu menerima ajakannya untuk masuk Islam.

Malam itu, 20 orang sekaligus dibawa ke masjid untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Allahu akbar!

So, berdakwah itu tidak harus nunggu jadi ustadz. Bukankah dakwah tidak selalu dalam format ceramah? Mempraktekkan akhlak mulia dalam keseharian pun, merupakan bentuk dakwah.

Masing-masing kita bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk berdakwah.

Orang kaya memanfaatkan potensi hartanya untuk berdakwah.

Ustadz memanfaatkan potensi ilmunya untuk berdakwah.

Pejabat memanfaatkan potensi kedudukannya untuk berdakwah.

Ayo berdakwah! Sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing.

Down Town Hotel – Amman Jordan, 16 J. Tsaniyah 1441 / 10 Februari 2020

ustadz abdullah zaen