Bulughul Maram – Shalat: Antara Azan dan Iqamah ada Jeda

Baiknya azan dan iqamah ada jeda, tidak terlalu terburu-buru untuk mendirikan shalat lima waktu.

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat – Bab Al-Adzan (Tentang Azan)

Hadits #196

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ – رَضيَ الله عنه – قَالَ : قَالَ لَنَا اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – – وَإِذَا حَضَرَتِ اَلصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ . . . – اَلْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ

Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada kami, ‘Apabila waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan untuk kalian semua.” (Al-Hadits. Dikeluarkan oleh yang tujuh).

Takhrij hadits: Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari (no. 682); Muslim (no. 674); Abu Daud (no. 589); Tirmidzi (no. 205); An-Nasai (2:9); Ibnu Majah (no. 979); Ahmad (3:436, 5:53). Adapun lafazh hadits ini dari Bukhari.

Faedah hadits

  1. Disyariatkan azan, hukumnya fardhu kifayah.
  2. Azan baru sah kalau waktu shalat sudah masuk. Azan sendiri adalah pemberitahuan mengenai masuknya waktu shalat.
  3. Azan dan iqamah tetap disyariatkan saat safar karena hadits Malik bin Al-Huwairits membicarakan tentang azan dan iqamah saat safar.

Hadits #197

وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لِبِلَالٍ : – إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ , وَإِذَا أَقَمْتُ فَاحْدُرْ , وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اَلْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ – اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu, “Jika engkau mengumandangkan azan, maka perlambatlah dan jika engkau mengumandangkan iqamat, maka percepatlah dan jadikanlah antara azan dan iqamah itu kira-kira seperti waktu orang yang makan telah selesai dari makannya. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap dhaif olehnya)

Takhrij hadits: Hadits ini dikeluarkan Tirmidzi (no. 195). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (2:297) mengatakan bahwa makna hadits ini sahih, namun sanad hadits ini dhaif.

Faedah hadits

  1. Kumandang azan diminta pelan, sedangkan kumandang iqamah lebih cepat.
  2. Antara azan dan iqamah baiknya ada jeda, tidak terburu-buru.

Referensi:

Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua.


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com