DALIL KELUARNYA PENGHUNI NERAKA DENGAN SYAFAAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DALIL KELUARNYA PENGHUNI NERAKA DENGAN SYAFAAT

>> Ahlus Sunnah Wal Jamaah Mengimani Adanya Syafaat Pada Hari Kiamat

Syafaat berarti menggenapkan, menggabungkan, mengumpulkan sesuatu dengan sejenisnya. Syafaat juga berarti wasilah, perantara dan menolak permintaan.

Syafaat menurut istilah, yaitu:

التَوَسُّطُ لِلْغَيْرِ بِجَلْبِ مَنفَعَةٍ اَو دَفْعِ مَضَرََّةٍ

“Menolong orang lain dengan tujuan menarik manfaat dan menolak bahaya.” [Dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarah Lum’atul I’tiqad, hlm. 128]

Syafaat dibahas oleh ulama Ahlus Sunnah, karena adanya golongan yang berlebih-lebihan dalam menetapkan syafaat, sampai golongan itu berkeyakinan, bahwa patung-patung dan orang mati pun dapat memberikan syafaat.

Begitu pula ada golongan lain yang mengingkari adanya syafaat, yaitu golongan Khawarij dan Muktazilah. Mereka meyakini, bahwa orang yang berbuat dosa besar dikatakan kafir, akan kekal di dalam Neraka dan tidak bisa keluar dari Neraka. Pendapat seperti ini SESAT dan MENYESATKAN. Pendapat ini sudah dibantah oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan dalil-dalil dari Alquran dan as Sunnah yang shahih.

Bantahan terhadap Khawarij dan Muktazilah:

1. Orang Muslim yang berbuat dosa besar, ia tidak kafir, selama ia tidak menghalalkan perbuatan dosa besar tersebut.

2. Di dalam Alquran disebutkan dua golongan yang berperang, Allah menyebutkan mereka dengan sebutan Mukmin. [QS. al Hujuraat ayat 9]

3. Nabi ﷺ memberikan syafaat kepada orang yang berbuat dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

شَفَاعَتِي لِأَهلِ الكَبَائِرِ مِن أُمَّتِي

“Syafaatku akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa besar dari umatku.” [HR Ahmad, 3/213; Abu Dawud, 4739; Tirmidzi, 2435; Hakim, I/69; Abu Dawud ath Thayalisi, 1774; Ibnu Hibban, 2596-Mawaarid-,-Sahih Mawaarid-2197; Ibnu Abi ‘Ashim dalam as Sunnah, no.856, tahqiq DR. Basim bin Faishal al Jawabirah, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan juga dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini Sahih]

Apa yang saya jelaskan ini baru sebagian kecil bantahan kepada Khawarij dan Muktazilah. Kalau mereka menggunakan akal dan hati mereka untuk tunduk kepada dalil, maka mereka akan mudah menerima dalil-dalil dari Alquran dan as Sunnah yang shahih yang menunjukkan tentang adanya syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada Hari Kiamat atas orang-orang yang berbuat dosa besar, bagi mereka yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik dan kufur. Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan tentang orang-orang Islam yang disiksa di Neraka dengan sebab perbuatan dosa besar yang mereka lakukan, kemudian mereka dikeluarkan oleh Allah dari Neraka, dan dimasukkan ke dalam Surga.

Di Antara Hadis Tentang Keluarnya Penghuni Neraka dengan Syafaat

Ada banyak hadis tentang keluarnya penghuni Neraka dengan syafaat. Di antaranya adalah hadis yang dibawakan oleh Hammad bin Zaid, ia berkata, Aku bertanya kepada Amr bin Dinar:

أَسَمِعْتَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم : (أَنَّ اللهَ يُخْرِجُ قَوْمًا مِنَ النَّارِ بِالشَّفَاعَةِ ؟) . قَالَ : نَعَمْ.

“Apakah engkau mendengar Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu membawakan hadis dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda: (Sesungguhnya Allah mengeluarkan sekelompok orang dari Neraka dengan syafaat)?”

Amr bin Dinar menjawab,”Ya.” [HR Imam Bukhari dan Muslim] [Hadis ini dikeluarkan oleh ImamBukhari dalam Kitab ar Riqaq, Bab Shifatil Jannah wan Naar, no. 6558; Fathul Bari (XI/416) dan Muslim, Kitab al Iman, Bab Adna Ahlil Jannah Manzilatan Fiha (III/49); hadis no. 470, Syarh Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha. Lafal hadis di atas adalah lafal Imam Muslim]

Demikian pula hadis yang dibawakan oleh Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu, melalui jalan Abu Maslamah, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda:

“أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُهَا، فَإِنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَحْيَوْنَ. وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوْبِهِمْ – أَوْ قَالَ : بِخَطَايَاهُمْ- فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوْا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ. فَجِيْءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ- ضَبَائِرَ، فَبُثُّوْا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ قِيْلَ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيْضُوْا عَلَيْهِمْ. فَيَنْبُتُوْنَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُوْنُ فِى حَمِيْلِ السَّيْلِ”.

فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : كَأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ كَانَ بِالْبَادِيَةِ. –أخرجه مسلم فى صحيحه، وابن ماجة.

“Adapun Ahli Neraka yang menjadi penghuni kekalnya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup. Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa Neraka karena dosa-dosanya, atau Rasul bersabda, karena kesalahan-kesalahannya, maka Allah akan mematikan mereka dengan suatu kematian. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, Nabi diizinkan untuk memberikan syafaat (kepada mereka).

Lalu mereka di datangkan berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, lalu dimasukkan ke sungai-sungai di Surga. Selanjutnya dikatakan (oleh Allah): “Wahai penghuni Surga, kucurkanlah air kehidupan kepada mereka”. Maka tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih-benih tetumbuhan di larutan lumpur yang dihempaskan arus air. Seseorang di antara sahabat berkata: “Seakan-akan Rasulullah ﷺ berada di padang gembalaan di suatu perkampungan.” [HR.Muslim dan Ibnu Majah] [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha (III/37), hadis no. 458, dan oleh Ibnu Majah. Lihat Shahih Sunan Ibnu Majah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani t (III/402), hadis no. 3497 Kitab az Zuhd, Bab Dzikru asy Syafa’ah, Maktabah al Ma’arif, Riyadh. Cet. I, dari penerbitan baru, 1417H/1997M].

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud dengan sabda Rasulullah ﷺ (yang artinya): “Adapun ahli Neraka yang mereka merupakan penghuni kekalnya, maka mereka tidak hidup dan tidak mati”

Maksudnya, orang-orang KAFIR yang merupakan penghuni Neraka dan layak untuk kekal di dalamnya, maka mereka tidak mati, dan tidak pula bisa merasakan hidup yang bermanfaat dan enak. Sebagaimana telah Allah firmankan:

لاَيُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلاَيُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا

“Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak pula diringankan dari mereka azabnya.” [QS. Faathir : 36]

Juga sebagaimana telah Allah firmankan:

ثُمَّ لاَيَمُوتُ فِيهَا وَلاَيَحْيَى

“Kemudian dia tidak mati di dalam Neraka dan tidak pula hidup.” [QS. al A’la : 13]

Demikian ini benar-benar akan terjadi menurut Madzhab Ahlul Haq (pengikut kebenaran). Yaitu, kenikmatan penghuni Surga akan terus selama-lamanya. Sedangkan siksaan bagi orang-orang yang kekal di Neraka juga akan selama-lamanya.

Adapun sabda Nabi ﷺ (yang artinya):

“Akan tetapi orang-orang yang ditimpa oleh siksa api Neraka sebab dosanya, … dst.”, maka maksudnya ialah, bahwa orang-orang yang berdosa dari kalangan kaum Mukminin, kelak akan dimatikan oleh Allah sesudah mereka disiksa (di dalam Neraka) selama jangka waktu yang dikehendaki Allah taala. Kematian yang ditimpakan oleh Allah terhadap mereka ini adalah dalam arti sebenarnya, hingga dengan kematian itu lenyaplah rasa sakit.

Jadi siksa terhadap mereka sesuai dengan kadar dosa mereka. Kemudian Allah matikan mereka, dan untuk sementara waktu (dalam keadaan mati) sesuai dengan takdir Allah, mereka tetap tersekap di dalam Neraka tanpa merasakan apa-apa.

Selanjutnya, dalam keadaan mati, mereka yang telah menjadi arang dikeluarkan dari Neraka. Kemudian dibawa dalam kelompok-kelompok yang terpisah-pisah sebagaimana layaknya barang. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam sungai-sungai di Surga, lalu disiram dengan air kehidupan. Maka hidup dan tumbuhlah mereka laksana tumbuhnya benih tetumbuhan yang tumbuh di lumpur-lumpur yang terbawa arus air, demikian cepat dan lemahnya. Tumbuhnya (manusia) itu, awalnya muncul kekuningan dan lentur karena lemahnya. Makin lama makin kuat, lalu mereka kembali seperti sediakala, dan makin sempurna keadaannya. [Lihat Syarah Imam Nawawi (III/37-38), syarah hadis no. 458, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)

Website: https://nasihatsahabat.com/

Twitter: @NasihatSalaf

Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/

Instagram: NasihatSahabatCom

Telegram: https://t.me/nasihatsahabat

Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat