Hikmah Dibalik Musibah

Hikmah Dibalik Musibah

1. Musibah merupakan tolak ukur bagi keimanan seorang muslim

Cobaan serta ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan merupakan sebuah barometer bagi keimanan seseorang. Semakin tinggi iman sesorang, maka akan semakin berat cobaan dan ujian yang akan menimpanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.
“Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisal dengan mereka dan yang seperti mereka. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka semakin keras ujiannya, dan jika agamanya lemah maka ia diuji berdasarkan kadar agamanya tersebut. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga meninggalkannya berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosa sedikitpun”. (HR. Ahmad, al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya)

2. Musibah merupakan tanda kebaikan bagi seorang muslim

Musibah dan cobaan yang menimpa orang-orang yang beriman juga merupakan suatu tanda kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah akan menunda hukuman atas dosanya itu sampai pada hari kiamat nanti hukuman itu baru akan ditunaikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Setelah memahami hadits di atas maka sudah selayaknya bagi setiap orang agar senantiasa khawatir dan mawas diri dengan kenikmatan dan kesehatan yang selama ini Allah berikan kepadanya. Karena bisa jadi hal itu merupakan istidraj (bentuk penundaan hukuman) atas dosa dan maksiat yang selama ini ia lakukan. Wal ‘iyyadzu billah.

3. Musibah merupakan penghapus dosa-dosa

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menghapus dosa-dosa seorang hamba dari musibah yang dialaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا.
“Tidaklah seorang muslim mendapatkan musibah, melainkan Allah akan akan menghapus dosa-dosanya, walau hanya tertusuk duri sekalipun.” (HR. al-Bukhari).

Setelah kita memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka tidak ada pilihan lain dalam menghadapi musibah kecuali sikap sabar, ridha dan mengharap pahala dari Allah serta mengharap dihapusnya dosa-dosa dari diri kita dengan musibah tersebut. Dan tetaplah yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Penyayang dan Maha Adil, Dia tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. al-Baqarah [2]: 286)

4. Musibah merupakan tanda kecintaan Allah kepada hambaNya

Hikmah lain yang bisa kita petik dari musibah yaitu bahwasanya ketika seorang hamba tertimpa suatu musibah maka ini bisa jadi adalah sebuah tanda bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba tersebut. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.
“Sesungguhnya besarnya balasan sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika Ia mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji/menimpakan pada mereka musibah, barangsiapa yang ridha (atas musibah tersebut) maka baginya ridha Allah, dan barangsiapa yang marah terhadap musibah dari Allah maka baginya murka Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, at-Tirmidzi no. 2396)