INILAH RAHASIA TERKABULNYA DOA PARA NABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

INILAH RAHASIA TERKABULNYA DOA PARA NABI

>> Di antara adab berdoa: Khusyuk, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas (takut). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [QS. Al Anbiya’: 90]

Setelah Allah subhaanahu wa taaala menyebutkan para nabi dan rasul secara sendiri-sendiri, maka Allah puji mereka secara umum. Yakni KETAATAN. Mereka segera melakukannya pada waktu-waktu yang utama, menyempurnakannya. Dan tidak meninggalkan satu keutamaan pun yang mampu dilakukan, kecuali dilakukannya, serta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Maksudnya, mereka meminta kepada Allah dalam hal yang yang diinginkan yang terkait dengan maslahat dunia dan Akhirat, serta berlindung kepada-Nya dari sesuatu yang tidak diinginkan yang ada di dunia dan Akhirat. Mereka berharap dan cemas, tidak lalai dan tidak mengulur-ulur.

Menurut Ats Tsauri, maksud dengan harap dan cemas adalah bahwa mereka mengharapkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi-Nya dan takut terhadap azab di sisi-Nya. Dalam ibadahnya. Hal ini karena tingginya makrifat (pengenalan) mereka terhadap Tuhan mereka. [Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Dalam doa terkandung pilar-pilar tauhid yang terbesar.

Dalam doa ada harapan kepada Allah, ada kecemasan dan keluh kesah, ada ungkapan kebutuhan hamba pada Allah.

Dalam doa ada pengakuan bahwasanya Dialah yang Maha Kuasa, Maha Kaya, dan Maha Pengasih.

Dalam doa ada pengakuan bahwasanya kita benar-benar hamba yang fakir dan hina di hadapan Allah.

Inilah tauhid yang sesungguhnya.

Tidak heran jika Nabi ﷺ bersabda:

عَنِ النُّعْمَانَ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النِّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ bersabda:

“Doa adalah ibadah.” [HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Sahih]

Inilah rahasia terkabulnya doa para nabi:

Pertama: Mereka menampakkan kebutuhan yang sangat di hadapan Allah.

Kedua: Mereka mengungkapkan pengakuan: Pengakuan akan kuasa Allah, Pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi, Pengakuan bahwa hamba telah berbuat khilaf.

Ketiga: Mereka berdoa dengan sepenuh jiwa dan khusyuk, karena berada dalam keadaan bahaya dan genting.

Keempat: Mereka berdoa dalam kesunyian dan kesendirian, di saat hanya Allah yang melihat dan mendengar. Ini menggambarkan betapa tinggi ketulusan doa mereka.

Dalam beberapa hadis disebutkan, bahwa di antara orang-orang yang dikabulkan doanya adalah:

• Orang yang terzalimi,

• Orang yang berpuasa, dan doa

• Musafir yang jauh dari kampung halaman serta keluarga kerabatnya.

Ada kesamaan di antara mereka yang menjadikan doa mereka terkabul. Ketiganya sama-sama dalam suasana hati yang tengah meluap ketauhidannya. Sama-sama menunjukkan kondisi fakir dan kebutuhan yang mendesak pada pertolongan Allah.

Demikian pula pada doa yang diajarkan Nabi ﷺ, yang beliau juluki “Sayyidul Istighfar” (Istighfar yang Paling Hebat). Pada doa tersebut terdapat ungkapan-ungkapan yang menggambarkan empat hal, dan semuanya adalah unsur-unsur Tauhid yang terbesar:

1. Pengakuan akan Rububiyyah Allah, Uluhiyyah-Nya, dan Asma’ wa Shifat-Nya.

2. Pengakuan akan status kita sebagai hamba di hadapan Allah.

3. Pengakuan akan nikmat-nikmat Allah kepada hamba.

4. Pengakuan bahwa hamba telah berbuat dosa dan kesalahan pada Allah, sehingga mendesak butuh ampunan dan rahmat Allah.

Untuk itu, ketika berdoa hendaklah menghadirkan tiga hal dalam hati kita:

• Al-Iftiqoor: Merasa sangat-sangat butuh, kerdil, dan hina di hadapan Allah,

• Al-Idhthiroor: Merasa berada dalam keadaan genting, butuh pertolongan Allah dengan segera. Yang mana kedua hal tersebut bisa diungkapkan dengan pengakuan akan nikmat Allah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, sementara kita justru banyak berbuat zalim dan kufur pada nikmat Allah yang melimpah.

• Al-Isroor: Berdoa dalam hening dan kesunyian, doa ketika sendiri, di saat hanya Allah yang mendengar dan melihat doa kita.

Ketiga hal tersebut adalah unsur-unsur Tauhid yang terbesar. Jika seorang hamba mewujudkan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka setiap doanya tidak akan tertolak. Maka hati tidak boleh lalai dalam doa. Rasulullah ﷺ bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه [رواه الترمذي: 3479، وهو حديث صحيح، كما في صحيح الترمذي: 2766].

“Berdoalah kalian dengan penuh keyakinan, bahwa doa kalian akan dikabulkan. Dan ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lupa dan lalai (tidak khusyuk, tidak menampakkan rasa butuh kepada Allah).” [HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)

Website: https://nasihatsahabat.com/

Twitter: @NasihatSalaf

Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/

Instagram: NasihatSahabatCom

Telegram: https://t.me/nasihatsahabat

Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#adabdoa #adabberdoa #harapcemas #caraberdoa #rahasiaterkabulnyadoanabi #tipssupayadoaterkabul #doaijabah #carasupayadoadikabulkan, #kabulkandoa