ITTIBA vs TAQLID

ITTIBA vs TAQLID

Bismillah...
Syarat diterimanya amal ibadah disamping Beriman dan Ikhlas adalah Ittiba'.
Mngkin bagi seseorang mendengar kata Ittiba' sudah tak asing lagi.
Tetapi jarang yg memahami dan menerapkan dalam setiap ibadahnya.

Apa itu Ittiba'??
Ittiba' Apabila dilihat dari sisi istilah, Ittiba bisa diartikan mengikuti sesuatu atau seseorang dengan dalil dan hujjah yang jelas. Ittiba terhadap kitab suci berarti kita berpanutan pada kitab suci dan mengamalkan segala isinya. Ittiba kepada Rasulullah berarti kita menjadikan beliau sebagai panutan yang harus diteladani dan juga ditelusuri jejak langkahnya.
Ber-Ittiba kepada Nabi besar Muhammad saw berarti menjalani hidup dengan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah, baik yang berupa amalan sunnah maupun amalan wajib, serta meninggalkan perkara-perkara yang telah ditinggalkan Rasulullah, baik perkara makruh maupun haram. Meneladani pribadi Nabi dalam bermuamalah dengan sesama manusia maupun dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya, baik yang kasat mata maupun yang tak kasat mata.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seseorang mampu memahami pengertian Ittiba Rasul dan sekaligus ber-Ittiba kepada Rasul jika ia tak mau mempelajari segala sesuatu mengenai Rasulullah dan jalan yang beliau tempuh? Islam adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad saw. Al Qur'an sebagai landasan utama, dan beliau meninggalkan sunnah sebagai penjelasannya untuk kita. Mempelajari Al Qur'an dan sunnah merupakan jalan yang harus kita tempuh agar kita bisa ber-Ittiba pada Rasulullah. Karena ber-Ittiba pada Rasulullah merupakan satu-satunya jalan agar kita bisa mendekat kepada Allah.

Rasulullah juga telah meninggalkan teladan pada para sahabat. Mereka adalah generasi terbaik dari orang-orang yang ber-Ittiba kepada Nabi. Teladan inilah yang kemudian juga diikuti oleh para tabi'in dan tabi'ut-tabi'in. Generasi sesudah para sahabat dan generasi sesudahnya lagi. 
Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-Hujurat : 1)

Firman Allah dalam surat lain,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan Ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan Ia ke dalam jahanam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An-Nisa’:115)

Sedangkan apa itu Taqlid??
Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad (Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178)
Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. (Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14)

Jadi kesimpulannya adalah:
ITTIBA' berusaha mengikuti cara ibadah,tingkah laku,apapun yg diperintahkan Rasulullah apakah itu wajib atau sunnat.Dan meninggalkan yg dilarangnya,tanpa mikir apakah itu haram atau makruh.

Dan TAQLID langsung percaya apa yang dikatakan ulama atau gurunya tanpa tahu dalilnya terlebih dahulu wal Pokoknya Baik.

Semoga bermanfaat.