Jangan Membuat Manusia Lari Dari Dakwah

Jangan Membuat Manusia Lari Dari Dakwah

Sebagian kalangan ketika mendapati kesalahan saudaranya yang masih tertatih dalam berjalan di jalan sunnah, dia langsung membully dengan kata-kata yg pedas, padahal cara ini bisa jadi malah membuat dirinya mundur berbalik arah.

Saudaraku.... Meluruskan kesalahan merupakan bagian dari nasehat. Namun, harus digaristebali bahwa meluruskan kesalahan ada cara dan seni yang harus diperhatikan agar sesuai dengan rambu-rambu syariat dan membuahkan hasil yang diinginkan.

Diantaranya harus didasari dengan pondasi keikhlasan, ilmu, sikap adil serta dengan lemah lembut.

Inilah beberapa rambu-rambu penting yang harus diperhatikan. Jangan sampai kita mengingkari kesalahan tapi justru dengan cara-cara yang keliru sehingga kita memiliki andil dalam melarikan manusia dari dakwah yang mulia.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

يا أيُّها النَّاس، إنَّ منكم مُنَفِّرِين
" Wahai manusia.Sesungguhnya diantara kalian ada yang membuat manusia lari (dari agama) ".

Syeikh al-Albani rahimahullah pernah memberikan pesan berharga kepada kita semua: "Sesungguhnya dakwah Sunnah ini adalah dakwah yang haq/benar. Dan kebenaran itu sangat berat diterima. Maka janganlah kau tambahkan beratnya kebenaran dengan beratnya cara engkau menyampaikan kebenaran".

Lihatlah petunjuk Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam dalam menyikapi kesalahan orang-orang yang awam yang bodoh, beliau sangat lembut penuh cinta dan kasih sayang.

Berikut beberapa contohnya:

1. Bedakan kesalahan orang awam/bodoh dengan orang alim

Muawiyyah bin Hakam Radhiyallahu Anhu, dia berkata; “Tatkala aku datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, aku mengetahui sebagian dari perkara-perkara Islam. Diantara yang aku ketahui bahwasanya beliau pernah bersabda: Apabila engkau bersin maka ucapkanlah "alhamdulillah", dan apabila ada yang bersin kemudian dia mengucapkan "al-hamdulillah", maka doakanlah" Yarhamukallah". Muawiyyah melanjutkan; Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ada seorang yang bersin dan dia mengucapkn "alhamdulillah ".Maka aku segera menjawab "Yarhamukallah" dengan suara yang keras. Orang-orang akhirnya melihatiku, hingga aku berkata; mengapa kalian melihatiku dengan pandangan seperti itu? Mereka semua mengucapkan subhanallah. Tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, demi Allah aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih bagus pengajarannya dibandingkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau tidak memarahiku dan tidak bermuka masam, beliau hanya berkata kepadaku; “Sesunguhnya shalat itu untuk membaca qur’an dan berdzikir kepada Allah, apabila engkau shalat maka jadilah seperti itu”( Shahih.HR. Muslim, no. 537)

Maka orang yang jahil bersalah tidak sama perlakuannya dengan orang yang berilmu yang bersalah. Ambillah pelajaran dari hadits diatas wahai saudaraku.

2. Sikapi dengan lembut

Orang yang bersalah disikapi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan baik dan penuh kasih sayang jika benar-benar telah menyesali perbuatannya dan telah bertaubat. Lihatlah bukti kasih sayang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang yang bersalah dalam kisah berikut ini;

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: “Tatkala kami sedang duduk-duduk di sekitar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, datanglah seorang laki-laki. Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah celakalah saya”. Beliau bertanya: Ada apa denganmu? Dia menjawab: Saya telah bersetubuh dengan isteri saya, padahal saya sedang puasa. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lantas bertanya; Apakah engkau mempunyai seorang budak yang dapat engkau bebaskan? Dia menajawab: Tidak!. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali bertanya; Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? Dia menjawab Tidak!. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi; apakah kamu mampu memberi makan kepada enam puluh orang miskin? Dia menjawab; tidak. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diam sejenak. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dibawakan sekeranjang korma. Beliau bertanya; Mana yang tadi bertanya? Dia menjawab; Saya. Beliau berkata; Ambillah sekeranjang korma ini dan bersedekahlah dengannya!. Laki-laki tadi malah berkata; Apakah kepada orang yang lebih miskin dari saya wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga di daerah ini yang lebih miskin daripada saya!, Rasulullah akhirnya tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Lalu beliau bersabda; Berikanlah korma ini kepada keluargamu!(Shahih.HR. Bukhari, 2600 dan Muslim, 111)

Perhatikan wahai saudaraku, orang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini datang dalam keadaan menyesali kesalahannya, dirinya diliputi perasaan bersalah, maka orang yang jujur dalam mengakui kesalahannya patut disikapi dengan lembut dan penuh kasih sayang.

3. Disikapi dengan tenang

Orang yang bersalah disikapi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan sikap tenang dan tidak kasar. Praktek yang telah dicontohkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam mengingkari kesalahan arab badui yang kencing di masjid (Shahih.HR Bukhari 221 dan Muslim 284.Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu) bisaadikan cermin kebaikan bagi yang akan meluruskan kesalahan. Karena sikap tenang dan ramah sehingga arab badui tersebut mau menerima pelurusan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ambillah pelajaran dari hal ini wahai saudaraku seiman.

Demikianlah sebagian metode pelurusan kesalahan sesuai sudut pandang syar’I dan manhaj nubuwwah.

Semoga kita menjadi para hamba yang berilmu dan mengamalkan ilmu yang kita miliki. Aamiin. Allahu A’lam

Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi