Ketagihan Mendengarkan Syubhat

Ketagihan Mendengarkan Syubhat

Kadang di antara teman-teman yang sudah belajar bertanya seperti ini,

"Ustadz, bagaimana menjawab syubhat si fulan yang berkata seperti ini?"

"Ustadz, bagaimana sebenarnya pemahaman yang benar mengenai pembahasan ini, soalnya ada "ustadz" di YouTube berkata seperti ini?"

Dan sederet pertanyaan lainnya yang dilontarkan agar bisa menjawab syubhat yang sudah terlanjur masuk ke dalam pikirannya.

Kadang kita heran dengan sebagian teman-teman yang pertanyaannya hanya seputar bagaimana membantah suatu syubhat. Mungkin karena banyaknya syubhat yang ia dengar. Usut punya usut, ternyata ia sudah ketagihan mendengarkan syubhat melalu media sosial, dan ia sendiri sudah paham bahwa orang yang ia dengarkan ceramahnya bukan da'i yang kokoh berada di atas manhaj salaf.

Hmm, entah mengapa ia akhirnya ketagihan? Mungkin awalnya sekadar iseng-iseng, atau ingin coba-coba dengar, atau penasaran, atau sebab lainnya lalu akhirnya keasyikan mendengarkan syubhat-syubhat yang dikhawatirkan bisa mengotori hati dan aqidanya.

Itulah gambaran dari realita yang terjadi pada sebagian orang yang sudah belajar, tapi sepertinya tidak memahami bahwa hati itu sangat lemah, bisa berbolak-balik.

Oleh karena itu, kita dilarang untuk duduk bersama orang yang zhalim dan pengikut hawa nafsu, sebab itu adalah bentuk kecondongan hati kepada mereka yang mengakibatkan kita bisa tersentuh api neraka.

Allah berfirman :

(وَلَا تَرۡكَنُوۤا۟ إِلَى ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِیَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ)
Dan janganlah kalian cenderung kepada orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, sedangkan kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kalian tidak akan diberi pertolongan. (Hud 113)

Dan Allah Ta'ala berfirman :

(وَإِذَا رَأَیۡتَ ٱلَّذِینَ یَخُوضُونَ فِیۤ ءَایَـٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ یَخُوضُوا۟ فِی حَدِیثٍ غَیۡرِهِۦۚ وَإِمَّا یُنسِیَنَّكَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ)
Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zhalim. (Al-An'am 68)

Para ulama salaf sangat khawatir terhadap yang namanya syubhat, sehingga mereka pun memperingatkan manusia dari orang yang bisa memberi syubhat seperti ahli bid'ah.

Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala' menyebutkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, bahwa beliau berkata, "Barangsiapa yang mendengarkan ucapan ahli bid'ah padahal ia sudah tahu, niscaya ia telah keluar dari penjagaan Allah, dan dijadikan bersandar pada dirinya sendiri".

Beliau juga berkata, "Barangsiapa yang mendengar suatu bid'ah, maka jangan ia ceritakan kepada teman-teman duduknya, jangan ia lemparkan bid'ah itu ke dalam hati mereka".

Adz-Dzahabi mengomentari ucapan Sufyan Ats-Tsauri di atas dan beliau berkata, "Kebanyakan para ulama salaf memperingatkan hal ini, mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat menyambar-nyambar.

(Lihat Siyar A'lam An-Nubala' 7/261)

Mendengar dan duduk dengan ahli bid'ah sangat berbahaya bagi hati.

Disebutkan tentang biografi Ibnu 'Aqil Al-Hanbali, bahwa beliau bergaul dengan

Ibnu Al-Walid dan Ibnu At-Tubban, keduanya adalah pentolan kelompok Mu'tazilah di masanya, yang menyebabkan Ibnu 'Aqil terjatuh pada penyimpangan mentakwil sebagian sifat Allah.

(Lihat Dzail Thabaqat Al-Hanabilah 1/322)

Mirip dengan kejadian di atas, apa yang menimpa seorang perawi hadits, 'Imran bin Hiththan (haditsnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Daud dan At-Tirmidzi). Dahulu ia seorang yang berada di atas aqidah yang benar, namun menikah dengan seorang wanita yang beraqidah Khawarij dengan maksud ingin menyelamatkan dari pemikiran tersebut, tapi justru ia sendiri yang terpengaruh dengan aqidah Khawarij.

Tahukah Anda bahwa 'Imran bin Hiththan adalah termasuk murid sejumlah sahabat? Beliau mengambil hadits dari 'Aisyah, Abu Musa Al-'Asy'ari, dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhum. Namun, tidak ada jaminan pada seorang pun bahwa ia akan selalu istiqamah.

(Lihat biorafinya di dalam Siyar A'lam An-Nubala' 4/214)

Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sering meminta kekokohan di atas agama Allah.

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata :

((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: ((يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ))
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering mengucapkan, "Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii 'ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)". (Riwayat At-Tirmidzi)

Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberi taufik kepada kita agar istiqamah di atas agama-Nya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Wallahu A'lam

Ustadz Irfandi Makku, Lc hafizhahullah