Khawarij Berisi Barisan Para Pemuda Yang Pendek Akalnya

Khawarij
يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Akan datang di akhir zaman, suatu kaum yang usianya masih muda tapi pendek akalnya. Mereka berucap dengan ucapan makhluk terbaik. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran bidik (setelah mengenainya). Keimanan mereka tidaklah melewati kerongkongan mereka. Di mana saja kalian bertemu dengan mereka, perangilah mereka. Karena sesungguhnya memerangi mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat" (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Tholib)

Penjelasan:

Fenomena penyimpangan Khawarij sudah dijelaskan Nabi shollallahu alaihi wasallam sebelum kemunculannya. Nabi menjelaskan dalam hadits di atas tentang beberapa ciri yang ada pada mereka.

Nabi menggambarkan bahwa mereka itu usianya masih muda namun pendek akalnya. Pemuda memiliki semangat yang tinggi dan kondisi fisik yang masih prima. Namun mereka memiliki kekurangan pengalaman dan ilmu. Seharusnya, mereka mengikuti bimbingan para Ulama yang telah senior. Karena sesungguhnya keberkahan itu akan didapatkan bersama bimbingan para Ulama “besar” (senior) tersebut.

Setiap pergerakan Khawarij dari dulu hingga saat ini tidak pernah didukung oleh para Ulama Ahlussunnah. Sebut saja kelompok al-Qaeda, ISIS, Boko Haram, dan berbagai jenisnya, tidak ada satupun Ulama Ahlussunnah yang mendukungnya.

Bahkan sejak awal-awal kemunculannya, ketika berdialog dengan para Khawarij, Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Aku datang dari sisi para Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kepada merekalah al-Quran diturunkan, dan mereka lebih mengerti tentang wahyu dibandingkan kalian. Di tengah-tengah merekalah alQuran diturunkan. Tidak ada seorang pun di antara mereka (para Sahabat Nabi) yang bersama kalian.

Di masa-masa awal kemunculan Khawarij, tidak ada seorang pun para Sahabat Nabi (orang-orang yang paling berilmu dan bertakwa) mendukung mereka. Demikian juga pada generasi setelahnya. Tidak didapati seorang Ulama Ahlussunnah pun yang mendukung mereka. Jika mereka mengklaim ada seorang Ulama, bisa jadi orang yang dimaksud adalah figur yang di-ulama-kan. Bukan benar-benar Ulama.

Nabi juga menyebutkan ciri –ciri mereka: Mereka berucap dengan ucapan makhluk terbaik. Artinya, mereka berdalil dengan alQuran, sehingga mudah menarik kaum muslimin. Ucapan mereka indah. Seakan-akan dalil kokoh bersama mereka. Namun pada hakikatnya dalil yang mereka gunakan tidak pada tempatnya. Seperti jika mereka berdalil dengan ayat: Tidak ada hukum kecuali hanya milik Allah (Q.S al-An’aam ayat 57). Kalimat yang diucapkan benar, tapi ditempatkan tidak pada tempatnya, karena ada keyakinan batil yang menyertainya. Mereka gunakan ayat itu untuk mengkafirkan kaum muslimin.

Nabi juga menggambarkan bahwa mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran bidik (setelah mengenainya). Para Ulama berbeda pendapat tentang apakah Khawarij kafir atau tidak. Jumhur Ulama berpendapat mereka masih muslim dengan penyimpangan yang ada pada mereka.

Dalam hadits di atas, Nabi juga menyatakan: Keimanan mereka tidaklah melampaui kerongkongan mereka. Artinya, al-Quran yang mereka baca sekedar tilawah yang dilafadzkan, tidak dipahami dengan pemahaman yang benar yang menghasilkan keimanan yang benar hingga merasuk ke dalam hati.

Kemudian di akhir hadits, Nabi memberikan motivasi bagi orang-orang beriman untuk memerangi mereka. Perangilah mereka karena Allah. Tentunya di bawah koordinasi dengan Waliyyul Amr, pemerintah muslim. Karena pada sikap memerangi mereka itu terdapat pahala yang akan dipetik kenikmatannya pada hari kiamat.

(Abu Utsman Kharisman)

Sumber rujukan: