Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam

Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam

https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Tue, 03 Dec 2019 01:48:17 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.12

Shalat Sunah Mutlak Antara Adzan dan Iqamah, Khusus Laki-laki yang Boleh Mengerjakan?

https://konsultasisyariah.com/35996-shalat-sunah-mutlak-antara-adzan-dan-iqamah-khusus-laki-laki-yang-boleh-mengerjakan.html Tue, 03 Dec 2019 01:48:17 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35996 Keutamaan Shalat Sunah Antara Adzan dan Iqamah

Assalaamualaikum Ustadz.

Apakah keutamaan salat sunah antara azan dan iqamah? Dan apakah itu hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang salat di masjid?

Jawaban:

Wa’alaykumussalaam wa rahmatullaahi wa barokaatuh.

Alhamdulillaahi wahdah, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa man laa nabiyya ba’dah, ammaa ba’du.

Ahlan wa sahlan saudaraku penanya.

Secara umum, salat sunah antara azan dan iqamat dapat digolongkan menjadi dua; Pertama sunah rawatib, dan yang kedua adalah salat sunah non rawatib.

– Adapun salat sunah antara azan dan iqamah yang tergolong rawatib, maka ia adalah:

  • 2 raka’at sebelum antara azan dan iqamat Subuh.
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda: “2 raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Aisyah –radhiyallaahu anha-, HR. Muslim)
    Aisyah –radhiyallaahu anha– juga mengatakan: “Tidak ada salat sunah/nafilah yang lebih dijaga oleh Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– melebihi salat sunah fajar.” (HR. Bukhari)
  • 4 raka’at antara azan dan iqamat Zuhur.
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda: “Barang siapa yang menegakkan 4 raka’at sebelum dan sesudah Zuhur, niscaya Allah akan haramkan bagi api neraka untuk melalap tubuhnya.” (Anbasah –radhiyallaahu anhu-, HR. Abu Daud, disahihkan oleh Al-Albani)
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– biasa menunaikan 4 raka’at ini, seraya mengatakan: “Waktu ini adalah saat dibukanya pintu-pintu langit. Dan aku suka jika ada amal salihku yang naik ke langit pada saat tersebut.” (Abdullah bin Sa’ib –radhiyallaahu anhu-. (HR. Ahmad, disahihkan oleh Al-Arna’uth)

Dan bagi mereka yang melaksanakan salat sunah rawatib ini, ada keutamaan khusus, sebagaimana Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– sabdakan:
“Barang siapa yang salat 12 raka’at dalam sehari semalam, niscaya Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga, yaitu 4 raka’at sebelum Zuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah Magrib, 2 raka’at setelah Isya, dan 2 raka’at sebelum salat Subuh.” (Ummu Habibah –radhiyallaahu anha-, HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani)

– Adapun salat-salat lainnya di antara azan dan iqamat, walau ia tidak termasuk rawatib, namun melaksanakannya juga merupakan sunah.

Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– mengatakan: “Di antara setiap azan dan iqamat ada salat.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.” (Abdullah bin Mugaffal –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– juga mengatakan: “Salatlah sebelum Maghrib.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.” (Abdullah Al-Muzani –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari)

Sebagaimana para sahabat –radhiyallaahu anhum– juga terbiasa mengamalkannya, dan para ulama pun sepakat bahwa di setiap waktu antara azan dan iqamat disunahkan untuk salat, walau mereka berselisih pada 2 raka’at antara azan dan iqamat pada salat Magrib.

Adapun keutamaan salat antara azan dan iqamat secara khusus, maka tidak ada nas sahih dari Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam– yang menyatakannya, namun tetap ia merupakan sunah dan kebaikan yang memiliki keutamaan umum yang sangat besar.

Allah –ta’aala– berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّئَاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang hendak mengingat. (QS. Hud: 114)

Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda kepada Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami –radhiyallaahu anhu- ketika ia meminta kepadanya untuk dapat menyertainya di surga:

“Bantulah aku (untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujudmu (salatmu).” (HR. Muslim)

Adapun apakah wanita juga dianjurkan untuk melaksanakan semua hal di atas, maka tentu saja iya. Bukankah yang meriwayatkan hadis-hadis di atas kepada kita adalah Aisyah dan Ummu Habibah, yang keduanya merupakan istri Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam-?

Hukum asal setiap syari’at adalah ditujukan kepada lelaki dan wanita, kecuali jika ada dalil yang mengecualikan salah satu dari keduanya dari syari’at tersebut.

Wallaahu a’lam. Semoga ini dapat menjawab pertanyaan anda.

Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]> Hukum Pakai Pampers ketika Ihram

https://konsultasisyariah.com/36003-hukum-pakai-pampers-ketika-ihram.html Mon, 02 Dec 2019 01:54:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=36003 Pakai Pampers ketika Ihram

Jika kita ihram dengan bayi laki-laki, bolehkah dikasih pampers. Sementara pakaian lelaki ketika ihram kan tidak boleh ada celana dalam.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara aturan pakaian yang berlaku bagi lelaki ketika ihram adalah dilarang mengenakan pakaian berjahit.

Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para sahabat yang hendak ihram,

لاَ تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْعَمَائِمَ ، وَلاَ الْبَرَانِسَ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلاَنِ ، فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ ، وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ

“Jangan memakai gamis, celana, sorban, burnus (jaket yang ada tutup kepala), atau sepatu. Kecuali jika ada yang tidak memiliki sandal, dia boleh memakai sepatu, dan hendaknya dia potong atasnya sampai bawah mata kaki.” (HR. Bukhari 1838 dan Muslim 1177)

Para ulama memahami bahwa hadis di atas bukan melarang orang ihram untuk memakai pakaian yang ada unsur jahitannya. Namun yang dimaksud adalah pakain berjahit yang membentuk tubuh. Di situlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut beberapa daftar pakain yang membentuk lekuk tubuh yang umumnya dikenakan di masa silam.

Imam Ibnu Baz menjelaskan,

ولو خاط شقوق الإزار أو الرداء ورقعه فلا بأس به؛ فإن الذي يُمنع منه المحرم هو اللباس المصنوع على قدر الأعضاء وما فصِّل عليها

Jika orang yang ihram menjahit kain ihram yang robek atau yang bolong, hukumnya tidak masalah. Karena yang dilarang untuk dikenakan oleh orang ihram adalah pakaian yang didesain mengikuti lekuk badan anggota badan. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/119).

Berdasarkan hadis ini, mengenakan pampers masuk dalam kategoti larangan. Karena pampers termasuk membentuk lekuk tubuh.

Hanya saja, terdapat riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau membolehkan memakai celana underwear (tubban).

Dalam shahih Bukhari dinyatakan,

وَلَمْ تَرَ عَائِشَةُ – رضى الله عنها – بِالتُّبَّانِ بَأْسًا لِلَّذِينَ يَرْحَلُونَ هَوْدَجَهَا

Aisyah membolehkan (orang yang ihram) memakai celana dalam, bagi mereka yang berangkat dengan naik di atas sekedup onta. (Bukhari secara Mu’allaq, Bab at-Thib inda al-Ihram).

Syaikh Dr. Abdul Karim al-Khudhair menjelaskan,

جوزته للحاجة، والأطفال أحوج إلى هذه الحفائظ من أولئك الذين جوزت لهم عائشة الإحرام بالتبان، فالحاجة قائمة إلى أن يحرم بالأطفال وعليهم هذه الحفائظ.

Aisyah membolehkan memakai pakaian dalam karena kebutuhan (al-Hajah). Dan bayi lebih butuh untuk memakai pakaian seperti pampers dibandingkan mereka yang dibolehkan oleh Aisyah untuk memakai celana dalam ketika ihram. Karena itu, alasan kebutuhan sangat kuat bagi anak-anak yang hendak ihram untuk dibolehkan memakai pampers. (http://iswy.co/evgl2)

Berdasarkan penjelasan di atas, tidak masalah anak bayi laki-laki diberi pampers ketika ihram, sehingga tidak perlu khawatir ketika dia mengompol saat thawaf atau sa’i. Hanya saja, perlu dipastikan agar sebelum thawaf, tidak ada kotoran di pampers yang dipakai.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]> Daftar Sekolah Pengusaha Muslim KPMI Entrepreneur School (KES) Angkatan 9

https://konsultasisyariah.com/34025-daftar-sekolah-pengusaha-muslim-kpmi-entrepreneur-school-kes-angkatan-9.html Fri, 29 Nov 2019 06:04:53 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=34025 Sekolah Pengusaha Muslim KPMI Entrepreneur School (KES)
Angkatan 9
Hotel Balairung, Jakarta
11 Januari – 19 April 2020

Dibuka pendaftaran hingga max 55 orang.

Apa itu KES?

KPMI Enterpreneur School (KES), adalah sekolah Bisnis yang diselenggarakan oleh KPMI (Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia). KES bukan sekedar memberi pemahaman tentang ekonomi dan motivasi bisnis, namun lebih pada pemahaman tentang syariah yang dibutuhkan semua pebisnis. Materi yang disajikan dalam KES meliputi materi syariah (60%) dan bisnis/ manajemen (40%), ditempuh selama 28 sesi pertemuan, dalam 17 hari belajar, setiap dua pekan pada hari Sabtu dan Ahad (kecuali kajian khusus).

Untuk materi SYARIAH, meliputi:
Tauhid, Aqidah, Ushul fiqh, Dasar Hukum Syariah, Dasar Muamalah Maliyah, dan Ekonomi Syariah.

Untuk materi Bisnis dan Manajemen, meliputi:
Kewirausahaan, Perencanaan dan Strategi, Manajemen Keuangan, Bisnis Ekspor, Pemasaran dan Legalitas Bisnis.

Siapa Pengajar di KES?
Para Asatidz yang akan meyampaikan materi adalah Ustad Pembina KPMI yang memiliki kompetensi di bidangnya, antara lain:
> Ustad Kholid Syamhudi. Lc.
> Ustad DR. Muhammad Arifin Baderi, MA.
> Ustad Ammi Nur Baits, ST., BA.
> Ustad Aris Munandar, SSi., MSi.
> Ustad Said Yai Ardiansyah, Lc., MA.
> Ustad Muhammad Yasir, Lc.

Materi manajemen bisnis dan sharing bisnis, akan disampaikan oleh para praktisi, profesional dan trainer manajemen bisnis, antara lain:
– Fadil Basymeleh (Owner Zahir Accounting, pendiri KPMI)
– Drs. Rachmat S. Marpaung, MSc., CSE., GPHR., NLP., CHt., CH. (Pengusaha, fasilitator manajemen bisnis dan SDM)
– Ir. Nursyamsu Mahyuddin, MSi (Pengusaha, fasilitator Bisnis Ekspor)
– Remmy Arizza Balaga, SH., MH. (Lawyer)
– Yogi Widianto S.Si (Owner Arsul Consulting)
– Anang Prajangka (Pengusaha)
– Darryl Hariananda (Eksekutif keuangan perusahaan)

Siapa Peserta KES?
Peserta KES terbuka untuk semua muslim, terutama para pengusaha dan aktivis bisnis. Baik anggota KPMI yang sudah registrasi atau para pengusaha muslim non anggota, memiliki komitmen untuk memahami ekonomi syariah dengan sebenarnya. Quota dibatasi sampai 55 peserta.

Kapan dilaksanakan?
KES Angkatan 9 insyaaAllah akan dimulai 11 Januari 2020 dan berakhir tanggal 19 April 2020. Dilaksanakan pada hari Sabtu dan Ahad setiap dua pekan. Kecuali Field Trip dan kajian khusus.

Waktu belajar jam 09.00 wib – 17.00 wib

Tempat Pelaksanaan KES**:
Hotel Balairung
Jl. Matraman No.19, Palmeriam
Jakarta 13140
(**atau sesuai dengan pengumuman panitia)

Berapa Biaya Mengikuti KES?
Biaya peserta Rp 7.500.000,- per orang

sudah termasuk:
– training kit
– makan siang dan snack
– field trip
– jas almamater.
Tidak termasuk penginapan.

Pembayaran dapat sekaligus atau diangsur 3 tahap selama proses belajar:
Tahap 1 Rp 4.000.000 (saat mendaftar)
Tahap 2 Rp 2.500.000 (selambatnya hari belajar ke 6)
Tahap 3 Rp 1.000.000 (selambatnya hari belajar ke 12).

Cara Pendaftaran dan pembayaran:
https://bursamuslim.com/event/kpmi-enterpreneur-school-kes-9.html

Bagi yang mengalami kesulitan dalam proses pendaftaran dan pembayaran di BursaMuslim, bisa menghubungi:
– Panitia KES: Slamet Edi Harsono (WhatsApp di 0857-1079-4730 atau Telepon ke 0251 – 840 9021)
– Customer Support Bursa Muslim: Elsi (WhatsApp di 081221506462 atau email ke [email protected])

Organized by KPMI

]]> Mengaqiqahi Anak yang Sudah Baligh

https://konsultasisyariah.com/35991-mengaqiqahi-anak-yang-sudah-baligh.html Fri, 29 Nov 2019 03:02:37 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35991 Mengaqiqahi Anak yang Sudah Baligh

Jika ada anak yang belum diaqiqiahi hingga si anak sudah besar, apakah orang tua juga tetap harus meng-aqiqahinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengenai hukum meng-aqiqahi diri sendiri setelah dewasa, sudah pernah kita bahas di artikel:

Akikah Ketika Sudah Dewasa

Pembahasan kita kali ini adalah hukum bagi orang tua yang belum sempat memberikan aqiqah bagi anaknya ketika bayi, hingga anaknya sudah menginjak usia baligh. Apakah anak ini masih perlu aqiqahi ayahnya?

Para ulama menganjurkan agar aqiqah disembelih pada hari ketujuh pasca kelahiran. Dalil tentang masalah ini adalah hadis dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, yang harus disembelih di hari ketujuh, dicukur dan diberi nama. (HR. Ahmad 20083, Abu Daud 2840, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dan jika tidak memungkinkan di hari ketujuh, maka aqiqah dilakukan pada hari ke-14. Jika tidak memungkinkan, aqiqah dilakukan di hari ke-21. Dan ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Hambali dan salah satu pendapat dalam Malikiyah. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/278)

Bagaimana jika lebih dari 21 hari?

Menurut syafi’iyah, aqiqah masih menjadi tanggung jawab itu hingga si anak menginjak usia baligh.

Dalam ensiklopedi fiqh dinyatakan,

وقال المالكية: إن وقت العقيقة يفوت بفوات اليوم السابع. وقال الشافعية: إن وقت الإجزاء في حق الأب ونحوه ينتهي ببلوغ المولود

Menurut Malikiyah, waktu kesempatan aqiqah menjadi hilang jika sudah berlalu hari ketujuh kelahiran. Menurut Syafiiyah, bahwa waktu bolehnya bapak atau siapapun mengaqiqahi anak, berakhir sampai baligh. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 30/279)

Jika anak sudah baligh dan belum diaqiqahi maka tanggung jawab orang tua telah berakhir dan selanjutnya anak bisa meng-aqiqahi dirinya sendiri. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وقال الشافعي: إن أخرت إلى البلوغ، سقطت عمن كان يريد أن يعق عنه، لكن إن أراد هو أن يعق عن نفسه، فعل

Imam as-Syafii mengatakan, jika aqiqah tertunda sampai anak itu baligh, maka telah gugur tanggung jawab orang yang meng-aqiqahinya. Akan tetapi jika dia ingin mengaqiqahi diri sendiri, oleh dilakukan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 16868)

Kesimpulan dalam madzhab Syafiiyah bisa kita jadikan acuan, bahwa tanggung jawab orang tua untuk memberi aqiqah anak, berakhir ketika sang anak belum baligh.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]> Hukum Pulang Tanpa Ngasih Kabar untuk Surprise Kepada Istri

https://konsultasisyariah.com/35986-hukum-pulang-tanpa-ngasih-kabar-untuk-surprise-kepada-istri.html Thu, 28 Nov 2019 01:56:11 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35986 Hukum Pulang Tanpa Ngasih Kabar untuk Surprise Kepada Istri

Klo ngasi surprise buat istri dgn pulang nggk bilang² dulu blh ngg?

Dari : Abdul Basith, di bumi Allah.

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Dari Jabir dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

Jika salah seorang dari kalian tiba (dari perjalanan) janganlah kalian pulang ke rumah keluargamu tengah malam, supaya keluarga yang ditinggalkan dapat bersiap-siap dan menyisir rambut (menyambut kedatanganmu). (HR. Muslim)

Hadis ini berisi larangan pulang ke rumah menemui istri setelah safar, seperti juga LDR, tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Larangan ini, dimaknai makruh oleh para ulama, diantaranya :

Imam Tirmidzi rahimahullah.

Dalam sunan Tirmidzi beliau memberi judul untuk hadis yang semakna,

باب ما جاء في كراهية طروق الرجل أهله ليلا

Bab: Tentang Makruhnya seorang suami menemui istrinya tiba-tiba di malam hari.

Imam Nawawi rahimahullah.

Beliau menyatakan,

معنى هذه الروايات كلها أنه يكره لمن طال سفره ، أن يقدم على امرأته ليلا بغتة فأما من كان سفره قريبا تتوقع امرأته إتيانه ليلا ، فلا بأس

Makna riwayat-riwayat ini (hadis di atas dan yang semakna, pent), seluruhnya menunjukkan makruhnya seorang yang lama tak berjumpa istri karena safar, untuk datang tiba-tiba. Adapun yang safarnya tidak lama, yang istri bisa mengira-ngira kedatangan suami meski di malam hari, maka tidak mengapa.

Mengapa Makruh?

Karena dua sebab (illat) berikut:

Pertama, agar istri bisa berdandan sebelum menyambut suaminya.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu bercerita,

“Kami pernah bersama Nabi dalam sebuah peperangan. Saat kami telah tiba di Madinah, kami percepat perjalan agar segera sampai rumah. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أَمْهِلُوا حتى نَدْخُلَ لَيْلًا – أَيْ عِشَاءً – كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ ، وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ

Pelan-pelan jalannya, nanti kita masuk rumah malam saja. Supaya para istri bisa bersiap-siap menyisir rambut dan membersihkan bulu. (HR. Bukhori dan Muslim).

Kedua, agar tidak menimbulkan penilaian buruk kepada istri, karena melihat aib-aib yang muncul akibat lama tak berjumpa dengan suami.

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya.” (HR. Muslim)

Al–Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan,

يقع الذي يهجم بعد طول الغيبة غالبا ما يكره ، إما أن يجد أهله على غير أهبة من التنظف والتزين المطلوب من المرأة ، فيكون ذلك سبب النفرة بينهما

Setelah lama bepisah biasanya akan muncul kondisi-kondisi yang tak sedap dipandang. Bisa karena istri belum siap bersih-bersih atau berdandan. Sehingga hal tersebut menyebabkan munculnya kerenggangan antara mereka berdua. (Fathul Bari 9/123, dikutip dari Islamqa)

Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan manusia dan mengupayakan segala yang dapat memunculkan keharmonisan kehidupan dan kerukunan. Sampai pada masalah sedetail dan sesederhana inipun dijelaskan oleh Islam. Agama yang sangat indah, menebar rahmat bagi seluruh makhluk. Maka bersyukurlah atas nikmat Islam.

Selain itu, ini juga menunjukkan motivasi untuk mendahulukan husnuzon (prasangka baik) kepada sesama muslim, apalagi pasangan. Dan larangan saling mencurigai antar pasangan selama keduanya komitmen menjalankan syariat Islam.

Sahabat Mu’awiyah semoga Allah meridhoi beliau, bercerita mengungkapkan pesan yang sangat berkesan yang beliau dengar dari kekasih beliau, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إنك إن اتبعت عورات المسلمين أفسدتهم، أو كدت أن تفسدهم

Sungguh kamu jika mencari-cari aib kaum muslimin itu akan merusak mereka. Atau bisa jadi dengan sikap seperti itu kamu bisa merusak mereka. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]> Panduan Bagi Takmir dalam Memilih Imam Shalat

https://konsultasisyariah.com/35959-panduan-bagi-takmir-dalam-memilih-imam-shalat.html Fri, 22 Nov 2019 01:43:54 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35959 Panduan Bagi Takmir dalam Memilih Imam Shalat

Sering terjadi ketegangan di beberapa masjid dalam menentukan siapa yang berhak jadi imam. Bagaimana solusi yang bisa anda berikan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat beberapa hadis shahih yang memberikan panduan dalam memilih imam. Diantaranya,

[1] Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانُوا ثَلاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

Jika mereka berjumlah tiga orang, hendaknya salah satu jadi imam. Dan yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalannya. (HR. Muslim 1077).

[2] Hadis dari Abu Mas’ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rincian,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلاَ تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِى أَهْلِهِ وَلاَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya dan paling sempurna bacaannya. Jika bacaan al-Quran-nya sama, maka yang berhak jadi imam adalah yang paling duluan hijrah. Jika hijrahnya sama, maka yang paling berhak jadi imam adalah yang paling tua usianya. Dan janganlah seseorang mengimami di wilayah orang lain, kecuali dengan izinnya. (HR. Muslim 1566 & Abu Daud 582).

Dua hadis di atas menegaskan bahwa yang paling berhak jadi imam adalah yang paling aqra’ diantara yang lain [أَقْرَؤُهُمْ]. Kata aqra’ bermakna orang yang paling sempurna al-Quran-nya. Di zaman sahabat, aqra’ didahulukan, karena mereka belajar al-Quran dengan bacaan yang benar, memahami maknanya, dan berusaha mengamalkannya. Sehingga mereka menggabungkan antara ilmu dan amal. Karena itu, orang yang aqra’ di masa sahabat, di samping hafalan al-Qurannya lebih banyak, mereka juga lebih sempurnya ilmu fiqhnya. Dan bukan semata banyak hafalannya, atau suaranya bagus, namun tidak paham maknanya.

Berdasarkan keterangan di atas, bisa kita urutkan kriteria orang yang paling berhak jadi imam – dengan asumdi semua adalah penduduk asli daerah tersebut atau orang luar yang ditunjuk oleh takmir:

[1]. Yang paling banyak hafalannya dan paling sempurna pemahamannya terhadap fiqh shalat

Kriteria ini diutamakan, karena menggabungkan 2 sifat utama yang sangat dibutuhkan untuk kemaslahatan shalat. Kesempurnaan hafalan dan bacaan al-Quran dan pemahaman terhadap fiqh shalat.

[2]. Yang paling banyak hafalannya, meskipun kurang sempurna pemahamannya terhadap fiqh.

[3]. Yang lebih dulu masuk islam

[4]. Yang lebih tua usianya.

Dalam hadis dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, kriteria usia mendapatkan porsi, namun paling ujung.

Dalam hadis dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Ketika datang waktu shalat, silahkan salah satu diantara kalian mengumandangkan adzan, dan hendaknya yang jadi imam adalah yang paling tua. (HR. Bukhari 6705).

Malik bin al-Huwairits datang bersama rombongan kawan-kawannya ke Madinah untuk belajar islam. Setelah beberapa hari di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta mereka untuk pulang ke keluarganya. Karena itu, secara pemahaman agama dan masa hijrah, rombongan Malik bin al-Huwairits kurang lebih sama. Barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalihkan kriteria yang berhak jadi imam dikembalikan ke usia.

Perhatian Bagi Takmir!!

Bagian yang perlu kita catat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan porsi untuk kriteria status sosial karena harta atau jabatan atau gelar pendidikan umum. Islam tidak mengajarkan, seseorang ditunjuk jadi imam karena kekayaannya atau jabatannya, atau karena dia bergelar profesor, doktor, dst.

Untuk itu, hendaknya kebijakan takmir dalam menentukan imam ratib kembali kepada yang paling maslahat bagi kepentingan shalat. bukan karena pertimbangan status sosial, atau semata usia, apalagi karena harta.

Karena itu, yang menjadi imam tidak harus anggota takmir, jika memang tidak ada anggota takmir yang memenuhi kriteria urutan imam yang ideal.

Dalam hal ini, takmir perlu memperhatikan bahwa kebijakannya akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Sehingga jika ada imam yang diangkat takmir, sementara dia tidak layak, maka takmir bertanggung jawab atas keputusannya ini.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]> Nisab Barang Temuan, Menemukan Uang 5 Ribu Boleh Dimanfaatkan?

https://konsultasisyariah.com/35954-nisab-barang-temuan-menemukan-uang-5-ribu-boleh-dimanfaatkan.html Thu, 21 Nov 2019 01:08:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35954 Nisab Barang Temuan

Pertanyaan:

Berapa nishob (batas bawah) barang temuan, saya bingung ketika menemukan uang 5 ribu di jalan mau diapakan, terimakasih.

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Amma Ba’du:

Saudara/saudari yang kami muliakan, barang temuan atau Luqathah merupakan harta/barang yang hilang dari pemiliknya dan ditemukan oleh orang lain, Para ulama di antaranya Ibnul Ghorobili rahimahullahu ta’ala mendefenisikan:

مالٌ ضاع من مالكه بسقوط أو غفلة ونحوهما

“Luqathah adalah harta yang hilang dari pemiliknya baik dengan cara terjatuh ataupun karena kelalaian dan selainnya” (fathul Qoribil Mujib fi Alfazhit Taqrib: 1/206).

Islam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara memperlakukan harta/barang temuan tersebut, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ :

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ -رضي الله عنه-: «أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنِ اللُّقَطَةِ قَالَ: عَرِّفْهَا سَنَةً ثُمَّ اعْرِفْ وِكَاءَهَا وَعِفَاصَهَا، ثُمَّ اسْتَنْفِقْ بِهَا، فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيْهِ

“Dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa Nabi ﷺ ditanya oleh seseorang tentang barang temuan, maka Nabi ﷺ bersabda: “Umumkanlah selama satu tahun, kemudian kenalilah tali pengikatnya atau kantongnya, kemudian kamu pergunakan, jika datang pemiliknya maka berikanlah kepadanya” (HR. Bukhari : 2256, Muslim : 3248).

Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa barang temuan harus diumumkan selama satu tahun, sebagaimana juga yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah:

وَأَمَّا تَعْرِيفُ سَنَةٍ فَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى وُجُوبِهِ إِذَا كَانَتِ اللُّقَطَةُ لَيْسَتْ تَافِهَةً وَلَا فِي مَعْنَى التَّافِهَةِ

“Dan dalam urusan mengumumkan barang temuan selama satu tahun merupakan perkara yang telah disepakati kewajibannya oleh para ulama jika barang temuan tersebut bukanlah sesuatu yang remeh atau tidak berharga. ( Syarhun Nawawi ala Muslim: 12/22).

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah juga menjelaskan:

الواجب عليك وعلى غيرك ممن يجد لقطة ذات أهمية تعريفها سنة كاملة في مجامع الناس كل شهر مرتين أو ثلاثا فإن عرفت سلمها لصاحبها، وإن لم تعرف فهي له بعد السنة

“Yang diwajibkan kepadamu dan kepada selainmu di antara orang-orang yang menemukan sebuah barang temuan yang bernilai adalah mengumumkannya selama satu tahun penuh di tempat-tempat umum (tempat berkumpulnya manusia) setiap satu bulan sebanyak dua kali atau tiga kali, jika telah kamu ketahui pemiliknya maka serahkan kepadanya, dan jika belum diketahui pemiliknya maka barang tersebut menjadi milikmu setelah satu tahun berlalu” (Majmu’ Fatawa ibnu Baaz: 19/429).

Adapun jika setelah satu tahun berlalu dan pemiliknya datang maka dijelaskan oleh Imam Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Ainiy rahimahullah:

إذَا جاءَ صاحِبُ اللُّقَطَةِ بَعْدَ سَنَةٍ ردَّهَا علَيْهِ لِأَنَّها ودِيعَةٌ عِنْدَهُ

“Jika datang pemilik barang temuan tersebut setelah berlalu satu tahun, maka harus dikembalikan kepadanya, karena ia berstatus barang titipan di sisinya“. (Umdatul Qori Syarhu Shohihil Bukhari: 12/279)

Berdasarkan penjelasan para ulama, bahwa barang temuan yang wajib diumumkan selama satu tahun adalah barang-barang yang memiliki nilai atau berharga, adapun barang-barang yang tidak berharga, maka dikecualikan, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama:

وقال قوم ينتفع بالقليل التافه من غير تعريف كالنعل والسوط والجراب ونحوها مما يرتفق به ولا يتمول. وعن بعضهم أن ما دون عشرة دراهم قليل. وقال بعضهم إنما يعرف من اللقطة ما كان فوق الدينار واستدل بحديث علي رضي الله عنه أنه وجد دينارا فأخبر بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمره أن يشتري به دقيقا ولحما فلما وضع الطعام جاء صاحب الدينار قال فهذا لم يعرفه سنة لكن استنفقه حين وجده فدل ذلك على فرق ما بين القليل من اللقطة والكثير منها

“Sebagian ulama mengatakan bahwa bolehnya memanfaatkan barang temuan yang sedikit dan tidak bernilai tanpa harus diumumkan selama setahun, seperti sandal, cambuk, kantong, dan yang semisal dengannya dari apa-apa yang bisa dimanfaatkan dan tidak dijadikan modal usaha, dan sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa apa yang nilainya kurang dari 10 dirham maka dianggap sedikit, dan sebagian lagi berpendapat bahwa apapun yang nilainya di atas 1 dinar maka wajib diumumkan setahun berdasarkan hadits Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendapatkan 1 dinar dan mengabarkannya kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ menyuruhnya untuk membeli tepung dan daging, maka ketika ia meletakkan makanan tersebut datanglah pemilik 1 dinar tersebut, dan beliau berkata: “ini belum diumumkannya selama satu tahun akan tetapi ia belanjakan langsung ketika mendapatkannya”, hal ini menunjukkan bahwa berbeda hukumnya antara barang temuan yang sedikit dengan yang banyak”. (Maalimus Sunan : 2/87).

Sehingga mengenai batas bawah barang temuan yang dianggap sedikit, maka Imam Abul Abbas Ahmad bin Muhammad al-Khatib al-Qhasthalaniy rahimahullah menyebutkan bahwa:

وحدّ القليل ما لا يوجب القطع وهو ما دون العشرة

“dan batas bawah barang temuan yang dianggap sedikit adalah yang tidak menjatuhkan hukuman potong tangan dalam kasus pencurian, yaitu di bawah 10 dirham” (Irsyadus Saari lisyarhi Shohihil Bukhari: 4/251).

Imam Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Ainiy rahimahullah menjelaskan bahwa:

وَإِن كَانَت اللّقطَة مِمَّا يعلم أَن صَاحبهَا لَا يتطلبها: كالنواة وقشور الرُّمَّان فإلقاؤه إِبَاحَة أَخذه فَيجوز الِانْتِفَاع بِهِ من غير تَعْرِيف، وَلكنه يبْقى على ملك مَالِكه، لِأَن التَّمْلِيك من الْمَجْهُول لَا يَصح, وَقَالَ ابْن رشد الأَصْل فِي ذَلِك مَا رُوِيَ أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم مر بتمرة فِي الطَّرِيق، (فَقَالَ: لَوْلَا أَن تكون من الصَّدَقَة لأكلتها) ، وَلم يذكر فِيهَا تعريفاً، وَهَذَا مثل الْعَصَا وَالسَّوْط

“Dan jika barang temuan tersebut dari hal-hal yang diketahui bahwa pemiliknya tidak akan mencarinya, seperti biji kurma, atau kulit delima, maka dibolehkan mengambilnya dan memanfaatkannya tanpa harus diumumkan, akan tetapi statusnya tetap hak milik bagi pemilik semula, karena kepemilikan dari sesuatu yang tidak diketahui asal-usulnya tidaklah sah, dan Ibnu Rusyd berkata bahwa dalilnya berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menemukan sebuah kurma di jalan dan beliau ﷺ bersabda: “Seandainya kurma ini bukan harta sedekah maka akan aku makan”, dan beliau ﷺ tidak mengharuskan untuk diumumkan barang temuan tersebut, hal ini serupa dengan tongkat dan cambuk”. (Umdatul Qori Syarhu Shohihil Bukhari: 12/273).

Penjelasan lainnya mengenai batas bawah yang dianggap sebagai barang temuan yang sedikit telah diungkapkan pula oleh Al-Imam Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin an-Naqib al-Mishriy rahimahullah:

وإنْ كانت اللقَطةُ يسيرةً وهيَ مما لا يُتأَسَّفُ عليهِ ويُعرَضُ عنهُ غالباً إذا فُقِدَ لمْ يجبْ تعريفها سنةً بلْ زمناً يُظَنُّ أنَّ فاقدها أعرضَ عنها

“Dan jika barang temuan bernilai sedikit yaitu sesuatu yang apabila pemiliknya tidak merasa bersedih atau pemiliknya merasa tidak peduli pada umumnya jika barang tersebut hilang, maka tidak diwajibkan untuk diumumkan selama satu tahun, akan tetapi cukup diumumkan dalam waktu yang diperkirakan bahwa pemiliknya telah merasa tidak peduli terhadap barang tersebut” (Umdatul Masalik wa Uddatun Nasik: 1/179).

Sehingga, dari penjelasan-penjelasan tersebut, maka batas bawah harta/barang temuan yang dianggap sedikit adalah dikembalikan kepada “Urf” atau kebiasaan/anggapan masyarakat di daerah setempat karena dalam hal ini tidaklah disebutkan secara jelas oleh syariat. Sehingga pada anggapan masyarakat kita di saat ini uang Rp. 5.000,- sudah dinilai tidak berharga, dan boleh untuk dimanfaatkan, Wallahu A’lam.

Dijawab Oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc. M.Kom

(Alumni Fakultas Syari’ah Universitas Imam Muhammad ibn Saud Al Islamiyyah, Cab. Lipia Jakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]> Imam Dibenci Makmum – Shalatnya tidak Diterima?

https://konsultasisyariah.com/35946-imam-dibenci-makmum-shalatnya-tidak-diterima.html Wed, 20 Nov 2019 01:51:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=35946 Imam Dibenci Makmum – Shalatnya tidak Diterima?

Jika ada imam yang dibenci makmum, apakah harus diganti? Imam dibenci karena bacaannya amburadul, tapi dia yang berkuasa di masjid itu.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Disebutkan dalam hadis dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Ada 3 orang yang shalatnya tidak bisa naik melebihi telinganya: budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, wanita yang menjalani waktu malamnya, sementara suaminya murka kepadanya, dan imam sebuah jamaah, sementara para jamaah membencinya. (HR. Turmudzi 360 dan dihasankan oleh al-Albani)

Selanjutnya, at-Turmudzi menyebutkan keterangan dari salah satu perawi hadis, yaitu Manshur, beliau bertanya kepada gurunya Hilal bin Yisaf,

فَسَأَلْنَا عَنْ أَمْرِ الإِمَامِ فَقِيلَ لَنَا إِنَّمَا عَنَى بِهَذَا أَئِمَّةً ظَلَمَةً فَأَمَّا مَنْ أَقَامَ السُّنَّةَ فَإِنَّمَا الإِثْمُ عَلَى مَنْ كَرِهَه

Kami bertanya mengenai kondisi imam yang shalatnya tidak sah. Jawaban yang kami dengar,

Yang dimaksud oleh hadis adalah para imam yang menyimpang. Adapun imam yang menegakkan sunah, maka dosanya kembali kepada orang yang membencinya. (Jami’ at-Turmudzi)

Apa sebab kebencian ini?

Keterangan Hilal bin Yisaf di atas termasuk salah satu yang menjelaskan itu. Dan dalam Aunul Ma’bud, penulis menukil penjelasan al-Khathabi

وقال الخطابي قلت يشبه أن يكون الوعيد في الرجل ليس من أهل الإمامة فيقتحم فيها ويتغلب عليها حتى يكره الناس إمامته فأما إن كان مستحقا للإمامة فاللوم على من كرهه دونه

Al-Khathabi mengatakan, yang lebih mendekati bahwa ini ancaman ini berlaku untuk orang yang tidak layak jadi imam, namun dia memaksakan diri untuk jadi imam, sehingga banyak orang tidak suka ketika dia jadi imam. Adapun orang yang berhak jadi imam, maka celaan itu kembali kepada orang yang membencinya. (Aunul Ma’bud, 2/213).

Penjelasan lainnya juga disampaikan oleh Syaikhul Islam, ketika beliau menjawab pertanyaan mengenai imam yang dibenci mayoritas makmumnya.

Jawaban Syaikhul Islam,

إنْ كَانُوا يَكْرَهُونَ هَذَا الْإِمَامَ لِأَمْرِ فِي دِينِهِ : مِثْلَ كَذِبِهِ أَوْ ظُلْمِهِ أَوْ جَهْلِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، وَيُحِبُّونَ الْآخَرَ لِأَنَّهُ أَصْلَحُ فِي دِينِهِ مِنْهُ : مِثْلَ أَنْ يَكُونَ أَصْدَقَ وَأَعْلَمَ وأدين فَإِنَّهُ يَجِبُ أَنْ يُوَلَّى عَلَيْهِمْ هَذَا الْإِمَامُ الَّذِي يُحِبُّونَهُ وَلَيْسَ لِذَلِكَ الْإِمَامِ الَّذِي يَكْرَهُونَهُ أَنْ يَؤُمَّهُمْ

Jika makmum membenci imam karena kekurangan agamanya, misalnya karena suka berdusta, suka dzalim, atau bodoh masalah agama, atau pelanggaran bid’ahnya atau alasan lainnya, dan mereka lebih menyukai orang lain untuk jadi imam, karena pertimbangan kesempurnaan agamanya, misalnya lebih jujur, lebih berilmu dan lebih sempurna agamanya, maka wajib untuk menunjuk imam yang disenangi makmum. Sementara imam yang dibenci makmum, tidak berhak untuk menjadi imam. (Majmu’ al-Fatawa, 23/373)

Berdasarkan keterangan beberapa ulama di atas, bisa kita simpulkan bahwa posisi imam yang dibenci makmumnya, sehingga menyebabkan shalatnya tidak diterima dikarenakan 2 hal:

[1]. Orang yang tidak berhak jadi imam disebabkan banyak kekurangan agama pada dirinya, namun memaksakan diri untuk jadi imam.

[2]. Orang yang memiliki penyimpangan dalam masalah agama, dan dia berkuasa di masjid itu, sehingga memasakan diri masuk islam.

Karena itu, ketika kita menjumpai imam semacam ini, segera diusulkan ke takmir agar imam ini segera diganti. Jika tidak memungkinkan, boleh cari masjid yang lain.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989
]]>