Manhajus Salikin: Bangkit Ke Rakaat Ketiga

Sekarang masih berlanjut pembahasan cara shalat nabi atau sifat shalat nabi, masuk bahasan bangkit ke rakaat ketiga.

# Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

Kitab Shalat

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,

ثُمَّ يُكَبِّرُ.

وَيُصَلِّي بَاقِي صَلَاتِهِ بِالْفَاتِحَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

“Kemudian bertakbir, dan mengerjakan sisa rakaat dalam shalat dengan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat.”

Apakah saat tasyahud awal membaca shalawat?

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami sedangkan kami berada dalam majlis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Sa’ad berkata kepadanya, ‘Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan shalawat atasmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bershalawat atasmu? ‘ Perawi berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam hingga kami berangan-angan bahwa dia tidak menanyakannya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah, ‘ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID (artinya: Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas keluarga Ibrahim, dan berilah berkah atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim di dunia. Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.’ Dan salam sebagaimana yang telah kamu ketahui).” (HR. Muslim, no. 405). Ditambahkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalamnya disebutkan, “Bagaimana kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu dalam shalat kami?” (HR. Ibnu Khuzaimah, 711).

Hadits di atas menandakan yang dimaksud bukanlah tasyahud akhir saja, namun juga tasyahud awal. Inilah pendapat Imam Syafii dan jadi pendapat pengikutinya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (3:460). Pendapat ini juga dianut oleh Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al-Albani. Kesimpulannya, tasyahud awal tetap membaca shalawat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:167.

Bacaan tasyahud, perlukah diganti “Assalamu ‘alan Nabi”?

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

عَلَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَفِّى بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ ، كَمَا يُعَلِّمُنِى السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .وَهْوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا ، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلاَمُ . يَعْنِى عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud–dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau–sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Quran: ‘AT TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAAT, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WARAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’. Bacaan itu kami ucapkan ketika beliau masih ada di antara kami. Adapun setelah beliau meninggal, kami mengucapkan ‘as salaamu ‘alan nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Bukhari, no. 6265).

Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’) pernah ditanya, “Dalam tasyahud apakah seseorang membaca bacaan “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi” atau bacaan “assalamu ‘alan nabi”? ‘Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan bahwa para sahabat dulunya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, mereka mengucapkan “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi”. Namun setelah beliau wafat, para sahabat pun mengucapkan “assalamu ‘alan nabi”.

Jawab para ulama yang berada di komisi fatwa tersebut, “Yang lebih tepat, seseorang ketika tasyahud dalam shalat mengucapkan “ASSALAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABI WA ROHMATULLAHI WA BAROKATUH”. Alasannya, inilah yang lebih benar yang berasal dari berbagai hadits. Adapun riwayat Ibnu Mas’ud mengenai bacaan tasyahud yang mesti diganti setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat–jika memang itu benar riwayat yang shahih–, itu hanyalah hasil ijtihad dari Ibnu Mas’ud dan tidak bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang ada. Seandainya ada perbedaan hukum bacaan antara sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan setelah beliau wafat, maka pasti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan menjelaskannya pada para sahabat. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah saat masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, no. 8571, pertanyaan pertama)

Baca Juga: Meminta Ampunan Allah antara Tasyahud dan Salam

Bangkit ke rakaat ketiga setelah tasyahud awal dengan mengangkat tangan

Dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi mengenai mengangkat tangan saat bangkit dari tasyahud awal, ia berkata,

ثُمَّ نَهَضَ ثُمَّ صَنَعَ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلاَةَ

“Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit, kemudian ia melakukan rakaat kedua seperti rakaat pertama. Sampai beliau selesai melakukan dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya sebagaimana yang beliau lakukan saat takbiratul ihram (ketika memulai shalat).” (HR. Tirmidzi, no. 304 dan Abu Daud, no. 963. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Membaca surah Al-Fatihah di setiap rakaat

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, dia membaca surah Al-Fatihah (Fatihatul Kitab) pada shalat Zhuhur dan Ashar di rakaat pertama dan kedua lalu ditambahkan dua surat. Dan kadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat. Beliau memperlama rakaat pertama. Lalu beliau membaca surah Al-Fatihah (Fatihatul Kitab) pada rakaat ketiga dan keempat. (HR. Bukhari, no. 759 dan Muslim, no. 451)

Setelah surah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat masih bisa menambah surah lainnya. Dalilnya adalah hadits dari Abu Said Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan,

كُنَّا نَحْرُزُ قِيَامَ رَسُوْلِ اللهِ فِي الظُّهْرِ وَالعَصْرِ ، فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الظُّهْرِ قَدْرَ ثَلاَثِيْنَ آيَةً ، قَدْرَ سُوْرَةِ السَّجَدَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأَوَّلَيَيْنِ ، وَفِي الأُخْرَيَيْنِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ ، وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأَوَّلَيَيْنِ مِنَ العَصْرِ عَلَى قَدْرِ الأُخَرَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ ، وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ مِنَ العَصْرِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ

Kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat Zhuhur dan Ashar. Kami memperkirakan lamanya berdiri dalam shalat Zhuhur pada rakaat pertama dan kedua sekadar membaca tiga puluh ayat seperti membaca surah As-Sajadah. Dan pada rakaat ketiga dan keempat, seperti membaca separuh dari tiga puluh ayat tadi. Kami hitung pula lamanya berdiri dalam shalat Ashar pada rakaat pertama dan kedua sekadar lamanya berdiri pada rakaat ketiga dan keempat dari shalat Zhuhur. Sedangkan kami hitung-hitung untuk rakaat ketiga dan keempat dari shalat Ashar adalah separuh dari rakaat pertama dan kedua.” (HR. Muslim, no. 452).

Semoga bermanfaat.

Baca Juga:

Referensi:

  1. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid ketiga.
  3. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Disusun @ Darush Sholihin, 17 Shafar 1441 H (16 Oktober 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com