MENCARI BARANG HILANG LEWAT DUKUN APAKAH INI TERMASUK SYIRIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENCARI BARANG HILANG LEWAT DUKUN APAKAH INI TERMASUK SYIRIK?

Pertanyaan:

Kalau ada paranormal yang bisa kasih tahu di mana barang kita yang hilang, bararti kita boleh percaya dong?

Bismillah was salatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sesuatu yang gaib ada dua:

Pertama: Hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Para ulama menyebutnya Gaib Mutlak. Siapapun makhluk tidak ada yang mengetahuinya. Sampai pun para nabi dan malaikat, kecuali sekelumit informasi yang Allah berikan kepada mereka.

Contoh Gaib Mutlak adalah kapan Kiamat terjadi. Allah ﷻ berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” [QS. al-A’raaf: 187]

Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi ﷺ: “Sampaikan kepadaku, kapan Kiamat?”

Jawab Nabi ﷺ:

مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

“Orang yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari pada yang bertanya.” [HR. Muslim 2, Abu Dawud 4605, dan yang lainnya]

Kita bisa perhatikan, manusia terbaik, malaikat terbaik, tidak tahu kapan Kiamat.

Termasuk Gaib Mutlak adalah peristiwa yang akan terjadi besok. Nabi ﷺ tidak tahu besok akan terjadi apa, kecuali sebatas wahyu yang Allah sampaikan kepada beliau ﷺ.

Suatu ketika ada orang anak yang menyenandungkan syair di dekat Nabi ﷺ:

وَفِينَا نَبِىُّ يَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ

Di tengah kami ada nabi, yang mengetahui apa yang terjadi besok.

Mendengar itu Nabi ﷺ langsung mengingatkan:

لاَ تَقُولِى هَكَذَا ، وَقُولِى مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

“Jangan kamu ucapkan seperti itu. Ucapkanlah bait sebelumnya yang kalian senandungkan.” [HR. Bukhari 4001, Ahmad 27780, dan yang lainnya]

Karena itu, jika ada orang yang mengaku-ngaku tahu nasib orang lain, bisa meramal nasib orang lain, atau bahkan meramal masa depan kehidupan di bumi, maka pastikan dia pendusta.

Dan siapa yang mengklaim bahwa ada orang yang tahu hal gaib dengan sendirinya, maka dia terjerumus dalam kesyirikan. Karena semacam ini berarti merampas hak yang hanya dimiliki oleh Allah. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, tidak ada satu pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal gaib, kecuali Allah.” [QS. An-Naml: 65]

Dan mengakui ada selain Allah yang mengetahui rahasia gaib yang hanya dimiliki Allah, berarti mendustakan ayat di atas.

Kedua: Hal gaib yang diketahui sebagian orang, namun tidak diketahui orang lain.

Para ulama menyebutnya Gaib Nisbi (Relatif).

Sebagai contoh ketika kita di kantor, kita tidak tahu apa yang terjadi di rumah. Sebaliknya orang yang ada di rumah tidak tahu tentang kondisi kita di kantor. Bagi kita yang sedang di kantor, kondisi rumah adalah hal yang gaib. Dan ini bisa menjadi tidak gaib, jika ada komunikasi antara kita yang berada di kantor dengan keluarga kita yang ada di rumah.

Karena itu, ketika ada orang yang mengaku mengetahui kejadian di tempat lain tanpa melalui komunikasi, berarti dia mengaku mengetahui hal yang gaib. Seperti orang yang mengaku memiliki kemampuan telepati, menerawang, dst.

Ada Dua Kemungkinan

Untuk semua klaim mengetahui hal Gaib Nisbi, di sana ada dua kemungkinan:

Pertama: Dia dibantu jin. Dia punya jin, dan jin itu memberi tahu dia tentang kejadian di tempat lain.

Kedua: Dia hanya berdusta, mengaku-ngaku tahu hal yang gaib.

Barang hilang, gaib?

Dari pembagian benda gaib di atas, barang hilang termasuk Gaib Nisbi. Diketahui oleh si pencuri atau si penemu barang, sementara pemiliknya tidak tahu.

Bagaimana jika yang tahu jin?

Mungkin saja itu terjadi. Karena jin melihat apa yang dilakukan manusia. Jika jin itu punya kerja sama dengan manusia, dia bisa ceritakan kejadian itu kepada manusia.

Dalam kitab Akam al-Mirjan fi Ahkam al-Jan disebutkan riwayat dari Abdullah bin Imam Ahmad, dengan sanadnya dari Salim bin Abdillah bin Umar:

Suatu ketika sahabat Abu Musa al-Asy’ari yang kala itu menjadi gubernur di Bashrah merasa resah dengan keterlambatan berita tentang Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Dan di Bashrah ada seorang wanita yang memiliki teman jin. Kemudian Abu Musa meminta kepada wanita itu:

مري صاحبك فليذهب فليخبرني عن أمير المؤمنين

“Minta temanmu untuk pergi mencari Umar, dan sampaikan kepadaku berita tentang Amirul Mukminin Umar.”

Setelah ditunggu dia memberi tahu melalui si wanita ini: “Umar di Yaman.” [Akam al-Mirjan, 168]

Hanya saja tidak semua proses kerja sama dengan jin menggunakan cara yang dibenarkan. Bahkan banyak yang bekerja sama dengan jin melalui cara yang dilarang, seperti pemujaan terhadap jin dan bentuk kekufuran lainnya. Terlebih jika orang itu secara sengaja membuka praktik pelayanan ‘mencari barang hilang’. Dan itu menjadi sumber penghasilannya. Bisa kita pastikan dia dukun.

Hukum Meminta Layanan Mencari Barang Hilang

Nabi ﷺ melarang keras mendatangi semua dukun. Jika hanya bertanya, beliau ﷺ mengancam salatnya tidak diterima. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, maka salatnya selama 40 hari tidak diterima.” [HR. Muslim 2230]

Beliau ﷺ bahkan menyebutnya sebagai tindakan kekufuran, jika sampai memercayai itu dukun. Beliau ﷺ mengingatkan melalui sabdanya:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Alquran yang telah diturunkan pada Muhammad.” [HR. Ahmad 9532, Hasan]

DR. Abdul Aziz ar-Rais menjelaskan:

الإتيان مع التصديق لهم في أمر غيبي نسبي مع اعتقاد أن الشياطين تخبرهم فهذا له عقوبتان :

أ ) لم تُقبل له صلاةٌ أربعين يوماً .

ب) كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم الكفر الأصغر

قال الشيخ عبد اللطيف ابن عبد الرحمن بن حسن :

Mendatangi dukun dan membernarkan mereka dalam perkara Gaib Nisbi, dengan keyakinan bahwa ada setan yang memberi info kepada dukun itu, maka dia mendapat dua hukuman:

Pertama: Salatnya tidak diterima selama 40 hari

Kedua: Dinilai dia kufur kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ, dengan status kufur kecil.

Kemudian DR. Abdul Aziz menukil keterangan Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alu Syaikh:

قولـه : « من أتى كاهناً فصدقه ، أو أتى امرأةً في دبرها فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم » فهذا من الكفر العمليِّ وليس كالسجود للصنم والاستهانة بالمصحف وقتل النبي وسبِّه وإن كان الكل يُطلق عليه الكفر

Sabda Nabi ﷺ:

‘Siapa yang mendatangi dukun dan membenarkannya, atau menggauli istrinya melalui duburnya, maka dia kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.’ Ini adalah kufur amali (kufur kecil). Tidak seperti sujud kepada berhala, atau menghina mushaf, atau membunuh Nabi ﷺ dan mencela beliau. Meskipun semuanya disebut kekufuran.” [al-Ikmal bi Taqrib Syarh Nawaqid al-Islam, hlm. 30]

Terlepas dari apapun cara dukun itu mencari barang hilang, kita tidak boleh mendatanginya. Karena semua akan membuat lebih parah musibah yang kita alami.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)

Website: https://nasihatsahabat.com/

Twitter: @NasihatSalaf

Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/

Instagram: NasihatSahabatCom

Telegram: https://t.me/nasihatsahabat

Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

Baca juga:

MENCARI BARANG HILANG LEWAT DUKUN APAKAH INI TERMASUK SYIRIK?