Mengapa Harus Islam Nusantara

Mengapa Harus Islam Nusantara
Mengapa Harus Islam Nusantara

Nabi Muhammad ﷺ itu datang bukan sebagai orang arab, beliau datang sebagai utusan rabbul alamin, sebagai utusan allah.
Tugas beliau itu bukan mengarabkan islam, tapi mengislamkan arab dan mengislamkan dunia.

Rasullah ﷺ mempunyai beberapa tugas salah satunya menegakkan dan menerapkan syari’at Allah diantara hamba-hambaNya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَآ أَنزَلَ اللهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [Al Maidah:49].

Ketika islam masuk ke mesir(mesir bukan arab dan masih dikuasai romawi) jadilah islam.
Ketika islam masuk ke eropa, tetap islam dan bukan islam arab.
Ketika masuk masuk ke indonesia, islam itu mengislamkan indonesia, bukan mengarabkan indonesia.

Mereka[1] berpikir ingin memisahkan islam dari arab, rasulnya orang arab, kitabnya bahasa arab, ibadah shalat pakai bahasa arab.
atau mereka[1] ingin memisahkan islam dari islam / Menjawakan islam.
seperti mereka[1] membaca alquran dengan langgam jawa.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…” [Al-Hujuraat: 14]

kemanapun kita pergi, kita pun akan mendapatkan islam itu satu. tidak ada itu islam arab, tidak islam mesir, tidak islam eropa, dan islam lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.” [Ali ‘Imran: 19]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Waktu lalu ada percobaan ada nabi baru di indonesia, seperti Ahmad Musadeq Warga eks Gafatar, mau buat agama baru dan indonesia menolak.
Sekarang caranya dibalik, bagaimana caranya menjawakan islam, maka esok akan banyak setiap suku di indonesia mensukukan islam masing-masing.

Dari sisi Tradisi, Islam masuk ke jawa, yakni mengislamkan jawa, bermacam-macam tradisi di jawa, bilamana tradisi bertentangan dengan syariat islam harus di tinggalkan, bukan tradisi di islamkan.
Seseorang yang meninggalkan tradisi diwilayahnya akan menyulut api permusuhan.
Perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ tidak semulus dan semudah yang kita bayangkan. Dakwah yang beliau lakukan mendapatkan respon tajam dan tantangan berat dari masyarakat Mekah kala itu. Beliau kerapkali mendapatkan hinaan dan ancaman. Bahkan sudah ada beberapa orang yang berusaha membunuh beliau, meskipun percobaan pembunuhan itu gagal.

Setiap aturan-aturan, anjuran, perintah tentu saja akan memberi dampak positif dan setiap larangan yang diindahkan membawa keberuntungan bagi hidup manusia. Salah satu larangan yang akan membawa maslahat bagi manusia adalah menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan nenek moyang terdahulu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan dalam AlQur’an :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal,nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah:170)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS Al-Maidah:104)

Kedua ayat tersebut menjelaskan kepada kita tentang orang-orang yang lebih patuh pada ajaran dan perintah nenek moyangnya daripada Syariat yang diwahyukan oleh Allah ﷻ didalam Al-Qur’an. Seperti adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu pada ritual-ritual yang menjanjikan keselamatan, ketenangan hidup, penolak bala yang menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah.


Mengapa Harus Islam Nusantara?
Dari sejak awal disebarkannya agama Islam dari zaman Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad ﷺ, Islam disebarkan dengan perdamaian, bukan dengan kekerasan. Peperangan terjadi hanya untuk membela diri ketika jalan damai mengalami kebuntuan, bukan untuk menginvasi atau memaksa.
Toh sejak awal pun Islam memang lahir untuk menjadi rahmatan lil’alamiin. Dengan kata lain, Islam bukan akan agama yang mengedepankan berbagai stigma negatif yang selama ini disebarkan oleh pihak-pihak anti Islam.

Lalu bagaimana sikap kita?

Adanya syariat tidak berupaya menghapuskan tradisi/adat – istiadat, Islam menyaringi tradisi tersebut agar setiap nilai-nilai yang dianut dan diaktualisasikan oleh masyarakat setempat tidak bertolakbelakang dengan Syariat. Sebab tradisi yang dilakukan oleh setiap suku bangsa yang notabene beragama Islam tidak boleh menyelisihi syariat. Karena kedudukan akal tidak akan pernah lebih utama dibandingkan wahyu Allah ﷻ. Inilah pemahaman yang esensi lagi krusial yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Keyakinan Islam sebagai agama universal dan mengatur segala sendi-sendi kehidupan bukan hanya pada hubungan transendental antara hamba dan Pencipta tetapi juga aspek hidup lainnya seperti ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Kadangkala pemahaman parsial inilah yang masih diyakini oleh ummat Islam. Oleh karena itu, sikap syariat Islam terhadap adat-istiadat senantiasa mendahulukan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Hadist dibanding adat atau tradisi.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah ﷻ dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat, sesat yang nyata.” (QS.Al-Ahzab:36)

Allah ﷻ memerintahkan kepada kita untuk berIslam secara kaffah yaitu secara batin dan dzahir. Seorang muslim tidak mencukupkan dirinya pada aspek ibadah, tetapi lalai pada persoalan akidah, pun demikian pula sebaliknya memahami aqidah tetapi lalai dari sisi ibadah. Seorang muslim juga tidak boleh lalai dalam memperhatikan akhlaknya kepada Allah ﷻ dan pada sesama manusia. Akhlak kepada Allah ﷻ inilah yang dibuktikan dengan sikap menerima, mentaati syariat Allah ﷻ dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. jiJka hal ini bisa teraktualisasi pada diri seorang muslim maka tidak akan kita temukan lagi sikap menolak pada syariat baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya.

Wallahu a’lam

Footnote:
[1] Jaringan Islam Liberal (JIL),