Mengenal Ustadz Ariful Bahri pengisi kajian bahasa indonesia di mesjid nabawi

Mengenal Ustadz Ariful Bahri
Ariful Bahri diserbu jemaah haji Indonesia setelah pengajian perdana yang diampunya di Masjid Nabawi, Madinah, rampung. Sambil tersenyum, Ariful menyalami para jemaah yang datang satu per satu, cium pipi kanan-kiri, dengan gembira. Dia sedikit malu ketika jemaah minta foto bersama, tapi urung untuk menolak.

"Ustaz boleh foto bersama?" kata seorang jemaah yang langsung berdiri di sampingnya, sementara kawannya mengambil foto dengan ponsel.

Pada Kamis (22/8) itu adalah pengajian berbahasa Indonesia pertama yang digelar di Masjid Nabawi setelah vakum hampir setahun lamanya. Sebelumnya, pengajian itu diampu oleh Ustaz Firanda Andirja dan Ustaz Abdullah Roy yang keduanya kini telah pulang ke Indonesia.

Pengajian digelar setiap hari bakda Magrib hingga azan Isya berkumandang. "Diadakan setiap hari sampai jemaah haji habis, lalu disambung lagi untuk jemaah umrah," kata Ariful ketika berbincang dengan kumparan.

Pria 31 tahun ini mengatakan, program pengajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi itu bertujuan untuk memberikan bekal ilmu kepada jemaah haji dan umrah. Diharapkan, jemaah pulang tidak hanya membawa oleh-oleh, tapi ilmu agama ke tanah air.

"Program kajian ini adalah lanjutan dari kajian Ustaz Firanda dan Ustaz Roy, kebetulan mereka sudah tamat kuliah dan kosong hampir satu tahun," kata mahasiswa S3 Jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah (UIM) ini.

Bukan sembarang orang yang bisa mengisi pengajian di Masjid Nabawi. Sebelumnya pengelola Masjid Nabawi mengajukan permohonan kepada UIM untuk mencarikan mahasiswa S3 untuk mengisi kajian berbahasa Indonesia. Lantas, kampus memilih mahasiswa yang dianggap layak melakukannya.

Ariful mengatakan, salah satu yang dilihat dalam pemilihan itu adalah nilai mahasiswa yang baik. Kemudian kampus mengajukan namanya ke pihak Masjid Nabawi. Tapi prosesnya tidak berhenti sampai di situ, ada ujiannya.

"Lalu diadakan pertemuan dengan syeikh-syeikh kibar (besar) di sini. Diadaptasi lagi, dites, ditanya-tanya," kata Ariful.

Ketika ditanya bagaimana dia bisa terpilih, Ariful mengatakan, "Saya bukan yang terbaik, biasa-biasa saja, ini semua taufik dari Allah."