MENGULANG KUMANDANG AZAN DAN KEUTAMAANNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGULANG KUMANDANG AZAN DAN KEUTAMAANNYA

1. Hadis Pertama

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ صَلَّى اللهُ بِهَا عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةِ.

“Jika kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muazin. Kemudian bersalawatlah untukku. Karena barang siapa yang bersalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bersalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah satu kedudukan di Surga, yang tak diraih, kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap akulah hamba Allah itu.

Barang siapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapatkan syafaatku.” [Sahih: Irwaa’ul Ghaliil (no. 243), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/94 no. 614), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/231 no. 525), Sunan at-Tirmidzi (I/136 no. 211), Sunan an-Nasa-i (II/27) dan Sunan Ibni Majah (I/239 no. 722)]

2. Hadis Kedua

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kajian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muazin.” [HR. Bukhari, no. 611; Muslim, no. 383]

Mengucapkan seperti muazin KECUALI pada lafal Hayya ‘Alash Shalah, Hayya ‘Alal Falah

Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ.قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu dia mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika muazin mengucapkan: ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar,’ maka hendaklah salah seorang di antara kalian (juga) mengucapkan: ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah,’ maka hendaklah yang mendengar mengucapkan: ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah,’ maka hendaklah yang mendengar mengucapkan: ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Hayya ‘alash shalaah,’ maka ia mengucapkan: ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Hayya ‘alal falaah,’ maka hendaklah yang mendengar mengucapkan: ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar,’ maka hendaklah yang mendengar mengucapkan: ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’

Kemudian jika muazin mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’ maka hendaklah yang mendengar mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan hati yang tulus, maka dia akan masuk Surga.” [ HR. Muslim, no. 385]

Faidah-faidah menarik dari dua hadis di atas:

1. Disunnahkan untuk mengulang kumandang azan seperti yang diucapkan oleh muazin, setelah setiap kalimat azan yang diucapkan. Kecuali untuk kalimat azan hay’alatain (yaitu hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah), dijawab dengan laa hawla quwwata illa billah.

2. Disunnahkan membaca doa setelah azan dengan bacaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

3. Kemuliaan salawat pada Nabi kita Muhammad ﷺ. Bacaan salawat tersebut disunnahkan bagi yang mendengar azan, juga bagi muazin. Walaupun sebagian ulama menyatakan yang mengucapkannya khusus yang mendengar azan saja.

4. Nabi ﷺ yang tentu lebih mulia dari kita mendapatkan manfaat dari doa kita setelah azan tadi. Ini tanda bahwa yang lebih mulia (al-fadhil) tetap mendapatkan manfaat dari doa yang kurang mulia di bawahnya (al-mafdhul). Kedua-duanya akan mendapatkan manfaat.

5. Allah melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya sebagai rahmat, dan ingin memuliakannya.

6. Salawat dari Allah artinya rahmat dan ampunan. Salawat dari malaikat artinya permohonan ampunan. Salawat dari hamba artinya doa.

7. Al-wasilah adalah kedudukan tertinggi di Surga yang dikhususkan hanya pada Nabi Muhammad ﷺ, tidak pada yang lainnya.

8. Para nabi itu ada yang lebih dimuliakan dari yang lainnya.

9. Nabi ﷺ memiliki syafaat yang khusus diberikan bagi orang yang mengucapkan seperti yang dimaksud dalam hadis.

10. Syafaat artinya meminta agar dihapuskannya dosa dan kesalahan, atau perantara kebaikan dari yang lain kepada yang lain.

Semoga bermanfaat dan bisa diamalkan.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)

Website: https://nasihatsahabat.com/

Twitter: @NasihatSalaf

Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/

Instagram: NasihatSahabatCom

Telegram: https://t.me/nasihatsahabat

Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MENGULANG KUMANDANG AZAN DAN

#antaraazandaniqamah #waktuterkabulnyadoa #waktumustajabberdoa #waktudikabulkannyadoa #doadanzikir #doaantaraazandaniqamah, #adabberdoa #faktorterijabahidoa #faktordikabulkannyadoa #doaazan, #doajawabazan #iqomat #iqamah #iqomah #iqamat #adabmenjawabazan #carajawabazan #mengulangazan