Mentauhidkan Allah ta'ala adalah Fitrah Seluruh Manusia

Mentauhidkan Allah ta'ala adalah Fitrah Seluruh Manusia

Tauhid adalah sesuatu yang telah difitrahkan Allah kepada umat manusia. Hanya saja dalam perjalanannya datanglah setan-setan yang menyimpangkannya dari fitrah awalnya kepada kesesatan syirik. Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. ar-Ruum: 30)

Dalam beberapa hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang fitrah ini. Di antaranya:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari: 1358)

Dalam hadits yang lain beliau shallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ إِنَّ رَبِّى أَمَرَنِى أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِى يَوْمِى هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلاَلٌ وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari kalian sesuatu yang tidak kalian ketahui dari apa yang Dia ajari kepadaku hari ini. Setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal, dan Aku menciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan lurus dan kemudian mereka didatangi oleh setan-setan yang memalingkan mereka dari agama mereka, para setan itu mengharamkan apa yang Aku halalkan bagi mereka dan memerintahkan mereka untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah untuk itu.” (HR.Muslim: 2865)

Dahulu manusia di awal kehidupan pada zaman Nabi Adam dan beberapa kurun setelahnya dalam keadaan yang sama yaitu menauhidkan Allah. Meski terjadi kemaksiatan dan tindak kriminal namun mereka tidak melakukan kesyirikan. Allah berfirman:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. al-Baqarah: 213)

Al-Imam Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah atsar dari sahabat Ibnu Abbas, bahwa ia mengatakan:

كَانَ بَينَ نُوْح وَآدَم عَشْرَة قُرُوْن، كُلُّهُم عَلَى شَرِيْعَة مِن الحَقِّ. فَاخْتَلفُوْا، فَبعَث الله النَبِيِّين مُبَشِّرِين وَمُنْذِرِين
Antara Nuh dan Adam sepuluh kurun, semuanya di atas syariat yang benar. Baru kemudian mereka berselisih, lalu Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan. (Tafsir Ibnu Katsir 1/569)

Artinya, dalam rentang sepuluh kurun itu, meski terjadi kemaksiatan akan tetapi manusia masih berada di atas fitrah mereka yaitu di atas tauhid.

Oleh sebab itu, mari kita jaga dan kembalikan lagi fitrah ini. Mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat kemudian masyarakat kita. Mari kita giatkan pengajian-pengajian yang membahas tauhid, kita datang dan hadir bersama keluarga agar kita dapat tetap berada di atas fitrah ini sampai meninggal dunia.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi