Orang Sakit Boleh Menjamak Sholat?

jubah akhwat murah

Orang Sakit Boleh Menjamak Sholat?

Assalamualaikum Ust, seringkali org yg sakit kerepotan saat mengerjakan sholat. Apakah boleh dijamak Ust?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Sakit diantara kondisi susah yang dapat menyebabkan bolehnya melakukan rukhsoh atau keringanan. Layaknya orang-orang beruzur lainnya yang mendapatkan rukhshoh dari agama yang mulia ini. Seperti, musafir boleh tidak puasa, boleh menjamak dan mengqosor sholat. Bahkan orang sakit juga boleh tidak puasa, demikian wanita hamil dan menyusui. Allah ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs. At-Taghaabun/64:16)

Allah tidak membebani hambaNya di luar batas kemampuan mereka,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs. Al-Baqarah/2:286)

Maka orang yang sakit pun demikian. Ia boleh menjamak sholatnya jika dengan melakukan sholat secara normal pada waktunya, dia kesusahan. Dan jangan khawatir kurang afdhol, karena sesungguhnya Nabi shallallahualaihi wa sallam pernah bersabda,

إن الله تبارك وتعالى يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن تؤتى معصيته

“Sesungguhnya Allah tabaraka wataála suka ketika rukhshah dari-Nya diambil, sebagaimana Allah membenci ketika maksiat kepada-Nya dilakukan” (HR. Imam Ahmad, Bazzar dan Thabrani dalam Al Ausath)

Dalil yang menunjukkan bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit adalah, hadis dari sahabat Abdullah bin Abbas –radhiyallahu’anhu– :

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ قَالَ (أَبُوْ كُرَيْبٍ) قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjama’ sholat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ di kota Madinah tanpa sebab takut dan hujan. Abu Kuraib berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma: Mengapa beliau berbuat demikian? Beliau radhiallahu ‘anhuma menjawab: Agar tidak menyusahkan umatnya. (HR Muslim no. 705)

Dalam riwayat lain disebutkan:

من غير خوف ولا سفر

Bukan karena kondisi takut ataupun safar.

Dalam Enskopedia Fikih diterangkan,

وقد أجمعوا على أنّ الجمع لا يكون إلاّ لعذر فيجمع للمرض وقد ثبت « أنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم أمر سهلة بنت سهيل وحمنة بنت جحش رضي الله عنهما لمّا كانتا مستحاضتين بتأخير الظّهر وتعجيل العصر والجمع بينهما بغسل واحد، ثمّ إنّ هؤلاء الفقهاء قاسوا المرض على السّفر بجامع المشقّة فقالوا : إنّ المشقّة على المريض في إفراد الصّلوات أشدّ منها على المسافر

Para ulama Mazhab Maliki dan Hambali sepakat, bahwa menjamak sholat tidak boleh dilakukan kecuali jika ada uzur. Sehingga orang yang sakit boleh menjamak.

Terdapat keterangan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memerintahkan Jahs radhiyallahu’anha (sohabiyyah), ketika beliau mengalami istihadoh (keluarnya darah penyakit), untuk mengakhirkan sholat dhuhur dan menyegerakan asar, lalu menjamak kedua sholat itu dengan satu kali mandi.

Kemudian para ahli fikih tersebut menqiyaskan sakit dengan safar, karena sama-sama kondisi yang memberatkan (masyaqqoh). Mereka menyatakan : Masyaqqoh pada orang yang sakit dalam mengerjakan sholat secara normal pada waktunya, lebih berat daripada yang dialami musafir. (Mausu’ah Al fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah).

Catatan Penting:

Meski menjamak sholat bagi orang sakit itu boleh, perlu diperhatikan bahwa:

  • Yang dibolehkan bagi orang sakit hanya jamak, bukan qoshor (memangkas raka’at sholat). Karena qoshor hanya boleh untuk musafir. Ada sebuah kaidah penting berkaitan hal ini:

    الجمع للعذر, والقصر للسفر

    AL-JAM’U LIL-‘UDZRI, WAL QOSRU LIL MUSAFIR
    “Boleh jamak karena uzur. Boleh qoshor karena safar.

  • Sholat yang bisa dijamak adalah : Dhuhur dengan Asar, Maghrib dengan Isya.
  • Boleh dilakukan jamak taqdim : mendahulukan pelaksanaan sholat pada sholat sebelumnya, seperti Ashar dilaksanakan di waktu Dhuhur. Boleh juga jamak tak-khir : mengakhirkan pelaksanaan sholat pada sholat setelahnya, seperti Duhur dilaksanakan di waktu Asar. Silahkan dipilih mana yang lebih meringankan. Namun jika sama memberatkan atau sama ringan atau bingung untuk menimbang, menjamak tak-khir lebih utama (Lihat : Al-Mughni, Ibnu Qudamah)

Demikian, wallahua’lam bis shawab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989