Pengalaman Alumni Madinah Asal Riau

Pengalaman Alumni Madinah Asal Riau

Merajut Cinta Mengenang Masa Indah

Hari Ahad, Mahasiswa Riau khususnya kedatangan tamu yang mulia, salah satu dai kondang Nasional asal Riau, beliau akrab di panggil Al-Ustadz Abu Zubair Al-Hawary, Lc Hafidzahullahu Ta’ala

Beliau datang untuk umroh sekaligus ada misi untuk persiapan muadalah Pondok Ibnu Katsir, Rumbai Kota Pekanbaru di Univ. Islam Madinah.

Tak disia-siakan oleh temen-temen dari Riau dan sekitarnya untuk mengajak beliau ramah tamah sekaligus berbagi pengalaman yang pernah beliau ukir di Jamiah Islamiyah ini.

Beliau adalah alumni UIM tahun 2001 fakultas Syariah Islamiyah, temen seangkatannya Ust. Armen Halim Naro, Lc Rahimahullah Ta'ala , Ust. Dr. Kholid Basalamah, MA, Ust. Ali Basuki, Lc Jogja dan asatidz yang lainnya

Sebelum di UIM sempat belajar di Lipia beberapa saat, sekaligus mulazamah di Majlis Ust. Abdul Hakim Abdat Hafidzahullahu Ta’ala di Jakarta ketika itu sebelum akhirnya beliau dinyatakan lulus di UIM.

Uniknya, beliau muqobalah hanya bermodalkan Pas Photo kecil dan mengatakan ke penguji bahwa beliau adalah Wufud Salafiyyin Min Sumatra (utusan salafiyyin dari Sumatra), ketika itu di Cirebon. Saat itu yang memimpin rombongan muqobalah dari UIM yaitu Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily Hafidzahullahu Ta’ala pada tahun 1996.

Perlu di ketahui juga bahwa beliau adalah murid kesayangan Buya Jufri Efendi Wahhab, MA Rahimahullah Ta'ala di Pondok Al-Furqon, Ala kulli hal yang namanya guru akan selalu sayang sama muridnya...

Beliau Al-Ustadz banyak menasehati kami layak nya bapak menasehati anaknya, tak ada sekat antara kami. Beberapa point dari nasehat beliau yang bisa kami himpun sebagai berikut :

1. Kalau jadi mahasiswa jangan pernah khawatir mau jadi apa ketika pulang nanti (kalau sudah lulus), yang terpenting antum serius belajar disini, in syaa Allah akan ada balasan dari Allah di kemudian hari. Antum lihat sekarang, para asatidz yang bergelar doktor khususnya dan yang lainnya dari alumnus jamiah islamiyah, yang mana mereka punya andil besar dalam membina masyarakat khususnya salafiyyin di Indonesia, mereka itu ketika disini serius dan fokus dalam belajarnya tidak pernah main-main. Sebut saja, semisal Ust. Dr. Ali Musri Senjam Putra, MA, Ust. Dr. Nur Ihsan, MA, Ust. Dr. M.Arifin Badri, MA, Dr. Aspri Rahmat, MA dll. Adapun yang maen-maen atau sibuk kerja ketika disini, maka tidak seperti yang di atas perannya. Karena mahasiswa ketika itu sangat sedikit, jadi ketahuan semua peran masing-masing ketika sudah pulang ke Indonesia.

2. Lapang dada dan selalu merendahkan hati ketika ada permasalahan sesama dai atau dengan yayasan dan semisalnya. Hal ini ana alamai di Pekanbaru, tapi semuanya ana anggap biasanya saja sehingga api fitnah tidak merebak kemana-mana. Karena ujian dakwah pasti ada. Dan sebagai dai harus paham betul masalah begini.

3. Ketika antum nanti nikah, antum harus punya izzah di hadapan istri dan mertua. Ketika awal nikah, istri ana anak orang kaya, tapi ana tidak punya apa-apa. Dan istri ana ketika itu, ana bawa keluar dari rumah mertua untuk ngontrak dan hidup sederhana hingga Allah memberikan kecukupan rezeki hingga sekarang ini.

4. Banyak cacat faidah ketika di Jamiah. Karena ada beberapa kawan dulu kurang perhatian terhadap pelajaran di kampus hingga akhirnya penyesalan datang di belakang, karena ana fokus mulazamah dengan para masyayikh ketika itu, sehingga faidah di kelas banyak ketinggalan. Kalau bisa di padukan keduanya maka bagus sekali.

Banyak faidah yang tidak bisa di ungkapkan semua, karena menyangkut masalah-masalah pribadi. Semisal tips poligami dan lain sebagainya.

Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan keistiqomahan kepada beliau.

Bagi yang ingin mengundang beliau, langsung saja WA ke nomernya. Karena beliau tidak punya meneger khusus. Jika tidak berbenturan dengan jadwal beliau yang sudah ada, maka beliau akan datang in syaa Allah.

Desember mendatang, jadwal beliau di Ponpes Darussholihin Gunung Kidul, asuhan Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, Msc Hafidzahullahu Ta’ala

Jazakumullahu khoiron kami ucapkan kepada Ust. Abu Ibrahim Yami Amanda Hafidzahullahu Ta’ala yang telah mengantur acaranya sedemikian rupa hingga berkesan bagi kami yang hadir.

Madinah, 27 Rabiul Awwal 1441 H

Abu Yusuf