Perayaan Tabuik Pariaman Dalam Timbangan Dinul Islam


KESIMPULAN:

1. Perayaan Tabuik Pariaman bukanlah sekedar budaya seni anak nagari, tetapi sejatinya adalah salah satu bentuk ritual tahunan agama Syi’ah Rafidhah yang berawal dari Irak lalu Iran, sekalipun yang di Pariaman tidak dilakukan oleh orang Syi’ah.

2. Sekiranya pun telah dilakukan berbagai modifikasi dalam Perayaan Tabuik Pariaman demi tujuan parawisata, namun ia tetap saja berstatus sebagai salah satu penampilan ritual Al-Husainiyat Syi’ah, selagi masih dalam bentuk penggambaran peristiwa kematian Al-Husain radhiyyallah ‘anhu dan pada hari-hari awal Muharram yang dibesarkan kaum Syi’ah, yang penuh bid’ah, khurafat dan maksiat lainnya.

3. Disamakan dengan hukum ritual Al-Husainiyah Syi’ah, maka hukum Perayaan Tabuik Pariaman adalah haram dalam syari’ah Islam.

4. Semua keterlibatan di dalam Perayaan Tabuik Pariaman adalah perbuatan yang dihukumi haram.

5. Wajib bagi ulul amri, dalam hal ini adalah ulama dan umara, untuk menghentikan Perayaan Tabuik Pariaman, meski pun telah dirayakan sejak hampir 2 abad lalu.

6. Didorong Pemerintah Pariaman bersama segala pihak untuk mencari alternatif kegiatan wisata lain yang tidak melanggar syari’at Islam, sebagai pengganti Perayaan Tabuik Pariaman.

7. Penghentian Perayaan Tabuik Pariaman adalah juga sebagai salah satu upaya pencegahan masuk dan berkembang ajaran Syi’ah Rafidhah ke wilayah Pariaman dan sekitarnya, yang, telah mulai bergerak di Indonesia dengan negara Iran di belakang mereka.

Wallaahu a’lam wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiil.

Pariaman, Sabtu, 13 Shafar 1441 H/12 Oktober 2019 M
Al-Faqiir ilaa Rabbih Zulkifli Zakaria