Sejarah Uyghuristan masuk dalam kekuasaan china

Sejarah Uyghuristan masuk dalam kekuasaan china

Uyghuristan dahulunya adalah batas kekhalifahan paling timur yg dibebaskan oleh Bani Umayah. Berbatas langsung dengan China. Lalu sejak runtuhnya kekhalifahan, ia menjadi sebuah negeri yg berdiri sendiri. Dinamai Turkistan timur (tanah Turki timur) oleh Uni Soviet karena memang mayoritas penduduknya adalah etnis Turk yg berbeda bahasa, budaya, dan ciri fisiknya dengan bangsa China.

Pasca runtuhnya kekhalifahan Turki 1924 oleh Kemal At-Tarturk, Turkistan Timur menjadi lemah dari sisi perlindungan militer. Akhirnya wilayah itu dijajah kembali oleh Dzungar Khanate (bangsa mongol). Hal ini dimanfaatkan oleh Dinasti Qing dengan menawarkan bantuan kepada pimpinan muslim wilayah tersebut di masa itu. Pasca berhasil membebaskan wilayah tersebut, rupanya yg terjadi adalah keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa.

Dinasti Han (China) rupanya mempunyai rencana lain atas wilayah tersebut yakni menjajahnya pelan-pelan. Awalnya untuk meredam gejolak politik, mereka menunjukan "wajah ramah" dan menjanjikan status otonomi asalkan wilayah tersebut menerima menjadi bagian dari China. Yang paling menggiurkan adalah dijanjikan bantuan ekonomi dan perlindungan militer dari bangsa Mongol yg kerap menjajah mereka.

Karna tidak ada lagi sistem khilafah yg melindungi mereka. Akhirnya muncul konflik internal. Apalagi bermunculan pula muslim munafik yg memperkeruh situasi dan menyuruh berkiblat ke China. Alhasil mereka akhirnya memilih menjadi bagian dari Rezim komunis sejak 1949. Karena itulah China menyebut Wilayah ini sebagai "Xinjiang" atau wilayah baru.

Sejak dikuasai itulah kolonialisasi besar-besaran mulai terjadi, namun tak bisa disebut penjajahan karna semua dilakukan secara resmi. Janji otonomi ternyata cuma janji diatas kertas. Tak seperti yg dibayangkan bahwa Uighur akan berdiri sendiri, justru malah direpresi. China menggalakkan kebijakan negara berupa migrasi besar-besaran etnis han ke wilayah baru tersebut sehingga etnis Uighur yg dahulunya menguasai 90 persen, berubah, dan kini 40 persen dikuasai oleh China (etnis han).

Semua Sumber daya alam dikeruk, dan posisi strategis dikuasai. Etnis asli (Uyghur) tersudut dalam segala lini kehidupan. Ini kurang lebih mirip sebagaimana Israel menguasai Palestina, bedanya dilakukan lewat kebijakan resmi yg sah secara kenegaraan. Disinilah letak polemiknya.

Secara budaya, semua budaya lama uighur disamarkan, diganti dengan budaya etnis han. Termasuk tata cara islami juga dihapus karna etnis han memandang hal tersebut masih bagian dari budaya lama etnis Uighur.

Kemudian seiring munculnya ambisi China untuk mengembalikan kejayaan masa lalu, ditambah masalah populasi yg makin masif, kebijakan negara yg dikeluarkan pun makin menyempitkan ruang gerak etnis Uighur. Sejak tragedi WTC 9/11, China memanfaatkan isu terorisme untuk secara terang-terangan membasmi aktivis/da'i da'i yg vokal dengan cukup menggelari mereka separatis. Bahkan sebagian dilakukan tanpa ada pengadilan sama sekali.

Kasus terakhir adalah ulama besar Uighur, Syaikh Abdul Ahad bin Baraah yg meninggal setelah mendapatkan siksaan berat dalam penjara, namun berita meninggalnya baru diberitahu 6 bulan setelah beliau wafat. Dari catatan sejarah juga disebutkan bahwa pemerintah China telah membunuhi lebih dari 60 juta etnis Uighur sejak menduduki wilayah tersebut.

baca juga Pelanggaran HAM Berat Pemerintah China kepada Muslim Uyghur