Shalat Malam itu Kebiasaan Orang Saleh

Tiga hadits akan jadi bukti bahwa shalat malam itu jadi kebiasaan orang saleh. Lihat saja sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak putri dan anak pamannya untuk shalat malam.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

  1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail

 

Hadits #1161

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ لَيْلاً ، فَقَالَ : (( أَلاَ تُصَلِّيَانِ ؟ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

طَرَقَهُ: أتَاهُ لَيْلاً.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi ‘Ali dan Fathimah pada waktu malam. Beliau berkata, “Apakah kalian berdua tidak shalat?” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1127 dan Muslim, no. 775]

Tharaqahu: mendatanginya pada waktu malam.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam sampai-sampai Nabi membangunkan putri dan anak dari pamannya.
  2. Dianjurkan membangunkan orang yang masih tidur untuk shalat malam, terutama mulai dari keluarga dan kerabat.

Hadits #1162

وَعَنْ سَالِمٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ – ، عَنْ أَبيِهِ : أَنَّرَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيلِ )) قَالَ سَالِمٌ : فَكَانَ عَبدُ اللهِ بَعْدَ ذَلِكَ لاَ يَنامُ مِنَ اللَّيلِ إِلاَّ قَلِيلاً . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhum meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya lelaki adalah ‘Abdullah, seandainya ia suka melakukan shalat malam.” Salim berkata, “Maka ‘Abdullah setelah itu tidak pernah tidur malam kecuali sebentar.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1122 dan Muslim, no. 2479]

Faedah Hadits

  1. Disunnahkan berkeinginan mendapatkan kebaikan dan ilmu.
  2. Boleh menyanjung seseorang jika dengan pujian tersebut bisa mengantarkan pada ketaatan pada Allah dan bertambah dalam melakukan amal baik.
  3. Para sahabat Nabi sangat respon dalam kebaikan, ketika mereka tahu langsung mereka meruntinkannya.

Hadits #1163

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( يَا عَبْدَ اللهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ؛ كَانَ يَقُومُ اللَّيلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, ia biasa melakukan shalat malam kemudian meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, 1159]

Faedah Hadits

  1. Hendaklah seorang alim memperhatikan keadaan muridnya yang biasa dekat dengannya.
  2. Seorang alim hendaklah terus memotivasi muridnya agar semangat melakukan kebaikan, bisa dengan cara memotivasinya dengan membandingkan pada aktivitas orang lain.
  3. Memotivasi dengan menyebut orang lain tidak mesti dengan menyebut namanya.
  4. Disunnahkan kontinu dalam beramal, dan dimakruhkan memutus ibadah yang sudah rutin walaupun ibadah tersebut tidak wajib.
  5. Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam tidaklah wajib.

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.


Disusun @ Darush Sholihin, 17 Shafar 1441 H (16 Oktober 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com